Dalam sejarah sosial-politik bangsa ini, dengan segala intrik politik yang terjadi, apalagi sebelum pemilihan presiden, dan selama masa kampanye, kita bisa melihat betapa ekspresi dan pengalaman demokrasi menjadi proses belajar yang terus-menerus. Tidak pernah berhenti, karena demokrasi itu pada dirinya sendiri adalah proses dan bukan tujuan akhir. Dan ini salah satu refleksi yang menguat saat saya menyaksikan bulan-bulan kampanye partai Demokrat dan Republik di negri ini. Tentu saja ada rasa sakit hati, marah, mungkin dendam ketika masing-masing partai, dan kemudian calon, baik dalam diri partai masing-masing maupun ketika tinggal dua calon yang tersisa (McCain/Republik dan Obama/Demokrat).
Yang menarik dari semua proses ini adalah orang-orang yang bersain untuk kursi kepresidenan mampu keluar dari penyesalan dan kemarahan karena tidak terpilih. Hillary Clinton, yang nota bene adalah favorit saya, keluar dari 'trauma' kekalahan dari Obama. Ia keluar sebagai pribadi yang luar biasa dan malah berkampanye untuk mendukung keterpilihan Obama. Bagi Hillary, yang paling penting adalah tujuan dan visi partai demokrat.
Kemudian kampanye makin menguat baik dari pihak Obama maupun McCain. Dan akhirnya 4 November 2008 dunia menyaksikan laki-laki Amerika berayah Kenya (hitam) dan beribu Amerika (putih) terpilih untuk pertama kalinya menjadi presiden. Saat Obama meyampaikan pidato kemenangannya di Chicago, McCain di Arizona menyampaikan pidato kekalahannya.
Tidak ada saling mengejek. Yang ada dari keduanya adalah penghargaan dan penghormatan.
Semalam, 19 Januari 2009, Obama mengadakan acara resmi makan malam, yang salah satunya khusus diadakan sebagai tanda penghormatan pada McCain. Penghargaan pada 'lawan' politik dan pengakuan akan jasa-jasa dan komitmen 'lawan' politik yang sesungguhnya adalah 'kawan' sebangsa.
Lalu pagi ini, sebelum acara pelatikan ritual 'transisi kekuasaan' dilakukan dari Presiden George W. Bush dan President (elect) Barack Husein Obama. Semuanya berlangsung mulus dan damai. Bahkan sejak bulan November lalu, Presidet dan Nyonya Laura Bush sudah mengundang keluarga Obama untuk berkunjung ke White House.
Ritual serah-terima jabatan yang menyentuh aspek informal dan formal. Dan saat meyaksikan semua itu saya disadarkan bahwa negri ini yang di luar dikenal sebagai arogan dan tak berperikemanusiaan, khususnya beberapa tahun terakhir, berhasil dalam sejarah politiknya mempertahankan transisi kekuasaan yang damai. Luar biasa! Kekuasaan adalah tanggung jawab yang harus diemban. Ia bukan sesuatu yang kekal, karena itu ketika saatnya tiba ia harus diserahkan dengan sukarela dan damai. Kekuasaan [baca khususnya: kepresidenan] bukan milik pribadi. Ia milik bangsa.
Inilah proses belajar demokrasi di negeri ini. Kepresidenan bukan tentang pribadi. Dan ini yang menguat dalam pidato Obama. Hanya 3 kali dia menggunakan kata "I" [saya] dan berkali-kali menggunakan kata "we" [kita]. Kepresidenan (presidency) adalah mengenai bangsa/rakyat (the people) karena itu setiap transisi kekuasaan harus berorientasi pada kepentingan bangsa bukan pada kepentingan pemimpin. Hari ini saya kembali diingatkan bahwa seorang presiden tidak cukup hanya seorang politikus, atau yang mengerti politik. Dia pertama dan terutama harusnya seorang negarawan. Seorang negarawan/wati adalah seseorang yang berakar di dalam pengenalan diri yang baik dan visi yang jelas dan mampu melihat dirinya di dalam arak-arakan bangsa yang dipimpin dan dilayaninya. Dan di dalam diri Obama saya melihat citra negarawan yang melayani secara bertanggung jawab. Tentu, masa kepresidenannyalah yang akan membuktikan apakah dia sungguh seperti yang dia katakan. Sejarah yang akan menilainya. But at this moment, I just wanted to join millions of Americans in joy and gratitude for having witnessed the history where hope is possible, where the dreams of a visioner woman, Rosa Park, and a minister, Dr. Martin Luther King, Jr. become real!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment