Amplop berisi daftar Calon anggota Legislatif dari Konsulat Jenderal Indonesia di New York tiba di kotak posku di Brighton, MA, Senin 6 Januari. Semalaman amplop itu teronggok di antara buku-buku bacaanku. Tak menarik untuk disentuh. Besoknya, 7 Januari kutemukan lagi amplop yang sama di kotak suratku. Loh koq ada 2? Ini baru menarik! Kenapa ada 2 amplop? Apakah ada hak khusus? Tentu tidak! Apakah kesalahan kantor pos? Juga tidak! Jangan-jangan petugas di KonJen melakukan kesalahan? Ya! ...
7 Januari malam 1 amplop itu kuberikan ke seorang teman. Entah dia menggunakannya atau tidak! 8 Januari teman yang sama ternyata menerima amplop dari KonJen. Nah lo! Amplop 7 Januari itu berarti tak terpakai. Ckckckckck ... Di Amerika Serikat setidaknya ada 1 amplop suara yang terbuang percuma ckckckck [lagi].
8 Januari hampir tengah malam. Bingung! 3 hal yang membingungkan:
Pertama, kata 'contreng'. Apa arti kata ini? Apakah kata ini dipahami oleh semua warga pemilih atau jangan-jangan segelintir orang?
Kedua, di mana contreng-an itu dilakukan? Tidak ada keterangan apapun! Di nama partai atau di nama orang?
Ketiga, dan ini yang memilukan. Siapa/Apa yang harus dicontreng?
Apakah hanya saya dan banyak teman-teman di luar Indonesia yang mengalami kebingungan yang ketiga? Di wall Facebook saya ternyata kebingungan itu dialami teman-teman di tanah air.
Prihatin dan sedih luar biasa! Kalau seperti ini keadaannya lalu apakah akan ada komunikasi antara calon yang 'seharusnya' mewakili rakyat dengan rakyat itu sendiri? TIDAK! Apakah bisa diharapkan semacam perasaan bertanggung jawab dari anggota legislatif atas rakyat yang memilihnya? Nah, ini akan sangat tergantung pada kesadaran dan karakter anggota itu ... yang lagi-lagi tak mungkin diketahui apalagi diprediksikan.
Rakyat, setidaknya saya dan teman-teman di dalam dan luar Indonesia (yang mencatat kebingungan mereka di wall Facebook masing-masing), tidak akan pernah bisa menuntut tanggung jawab si calon wakil rakyat saat mereka sudah duduk manis di lembaga perwakilan itu. Lah wong, kita saja milihnya bingung. Dan saya yakin 1000% sesudah contrengan itu diberikan, dimasukkan ke amplop nomor 2 lalu disegel, masukkan ke amplop nomor 3 yang sudah berperangko, dan dimasukkan ke bis surat, pasti nama orang itu [kalau nama orang yang dicontreng] sudah dilupakan. Setidaknya saya sudah lupa nama siapa yang saya contreng. Lalu, bagaimana mungkin saya bisa tahu apakah dia terpilih atau tidak, apalagi saya merasa berhak untuk menuntut kalau dia melakukan sesuatu. Lah wong, namanya saja saya sudah lupa padahal saat ini baru tanggal 9 Januari waktu Boston [pemilu di Indonesia sudah selesai].
So, bagi saya arti 'contreng' adalah 'lupa'. PEMILU=CONTRENG=LUPA!
TIDAK MENARIK!
Tapi saya memutuskan untuk memilih. Dan ketika menjalani semua pengalaman tadi, saya terhenyak dan menyadari bahwa saya memutuskan memilih karena saya mau mengambil resiko menjalani proses pemilihan yang tidak menarik ini. Setidaknya, saya sudah meraup rasa galau, marah, dan pesimistis itu saat mencontreng nama yang saat ini sudah saya lupakan. Dan inilah pengalaman berharga itu. Bahwa seorang warga masyarakat Indonesia tetap bersedia memilih walau merasa galau, marah, dan pesimistis bahwa apa yang ia lakukan tidak akan punya arti apa-apa, setidaknya untuk dirinya sendiri sebagai warga yang berusaha bertanggung jawab.
PEMILU ... aya-aya wae! So what gitu loh!
Thursday, April 9, 2009
Sunday, January 25, 2009
Gong Xi Fat Coi
Saat ini jam 12:05 pagi waktu Boston, MA. 5 Menit pertama saat "Tahun Baru Cina".
Pagi tadi saya dan teman-teman ICF (Indonesian Christian Fellowship) merayakan tahun baru sambil makan siang dimsum di China Pearl, China Town, Boston. Enak sekali. Cukup banyak yang hadir: 20 orang. Tepatnya, 3 pasang suami istri masing-masing dengan anak perempuan balita (ketiganya cute: Nadine, Karina, dan Michelle), seorang ibu mertua, sepasang suami istri yang sedang menantikan kelahiran bayi laki-laki, dan para singles dan engaged. Semua makanan yang disajikan enak. Favorit saya: Ceker ayam! Tentu saya juga menikmati sajian yang lain. Maaf, saya agak susah menyebutnya karena semua punya nama chinese yang bagi saya sama saja artinya: ENAK! Tapi walaupun semuanya enak, tetap saja saya kembali ke CEKER AYAM. Namanya juga favorit.
Setelah semuanya kenyang, pembayaran ala saweran selesai dilakukan, maka kamipun keluar dari resto yang tetap dipenuhi banyak orang. Badan rasanya lebih hangat walaupun udara di luar tetap saja dingin. Tapi kami kelihatan siap dengan kostum ekstra hangat. Saya sendiri super siap: stocking (ini istilah orang Indonesia untuk menyebut kaos kaki tipis sampai pinggang) dilapisi long john (seperti stocking tapi lebih tebal, dan sedikit lebih tebal dari legging) dan dilapisi lagi dengan celana panjang corduroy. Belum cukup dengan 3 lapisan itu, kaos kaki ekstra panjang sampai di atas lutut menambah lapisan di balik celana panjang saya. Semuanya sudah cukup tebal. Atasan saya pun demikian, 2 lapis di tambah down coat panjang. Sarung tangan pun 2 lapis. Dan untuk pelindung kepala topi wool cukup menghangatkan kepala dan setidaknya melindungi telinga saya dari terpaan angin yang sangat amat dingin setidaknya minus 20 C.
Perut kenyang, tubuh hangat! What a perfect day! Saya dan beberapa teman kemudian memutuskan mengunjungi teman kami yang baru saja pindah ke apartemen baru. Apartemennya nyaman apalagi dengan pemandangan langit yang terhampar luas dengan warna biru pucat langsung di atas boston common. Pohon-pohon tanpa daun yang kelihatan menahan dingin, dan persis di bawah pohon-pohon itu terhampar salju putih menutupi semua yang berada di atas tanah. Orang-orang di taman itu lalu-lalang dan semuanya berkostum seperti kami. Semuanya berbungkus pakaian berlapis dan berjalan dengan badan agak sedikit menunduk cenderung 'mengkerut'kan badan mereka. Khas gaya berjalan saat musim dingin. Menghindari tiupan angin dingin dan berusaha sebisa mungkin berjalan cepat ibaratnya bola yang menggelinding tanpa peduli sekelilingnya. Matahari sore masih bersinar saat saya memperhatikan pemandangan itu. Indah sekali. Seandainya saya pelukis, tentu semua yang saya lihat sore tadi sudah akan ada di kanvas saya. Dari jendela kaca besar apartemen teman saya di lantai 12 [?], semua yang bergerak dan tak bergerak di taman itu menjadi semacam lukisan indah. What a beautiful afternoon!
Kami pun bercakap dengan santai ditambah dengan margarita lezat. Masih larut kami dalam percakapan sore itu ketika seorang teman menerima telpon dari teman kami di New Jersey mengabarkan kalau saya meninggalkan handphone saya di China Pearl. Tak sempat berpikir bagaimana semuanya terjadi, saya tetap meyakinkan diri saya kalau saya sudah memasukkan HP saya ke dalam tas. Kami pun kemudian berbondong-bondong di tengah udara dingin kembali berjalan beberapa blok dari apartemen itu kembali ke resto dimsum. Dan Hp saya ada di sana bersama 1 ballpoint. Hmm? Terima kasih banyak. I really appreciate it! Pikiran saya tenang. Tetapi sebenarnya saya kagum. Betapa baiknya orang yang menemukan HP dan pulpen saya itu dan mengembalikannya. Seandainya hal itu terjadi di negri saya mungkin ceritanya berbeda. Tetapi mungkin juga tidak. Tidak selalu yang buruk terjadi di tanah airku.
Malam ini kembali saya diingatkan akan peristiwa tadi. Dan karenanya tahun baru ini saya awali dengan mengucap syukur bahwa masih ada orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Orang itu orang baik. Saya tidak tahu siapa dia. Tapi saya tahu hari ini saya diberkati melalui orang baik itu. Dan untuk orang itulah saat ini saya mengirimkan ucapan terdalam dari hati saya: SELAMAT TAHUN BARU CINA. May God's abundant blessings be upon you always.
Pagi tadi saya dan teman-teman ICF (Indonesian Christian Fellowship) merayakan tahun baru sambil makan siang dimsum di China Pearl, China Town, Boston. Enak sekali. Cukup banyak yang hadir: 20 orang. Tepatnya, 3 pasang suami istri masing-masing dengan anak perempuan balita (ketiganya cute: Nadine, Karina, dan Michelle), seorang ibu mertua, sepasang suami istri yang sedang menantikan kelahiran bayi laki-laki, dan para singles dan engaged. Semua makanan yang disajikan enak. Favorit saya: Ceker ayam! Tentu saya juga menikmati sajian yang lain. Maaf, saya agak susah menyebutnya karena semua punya nama chinese yang bagi saya sama saja artinya: ENAK! Tapi walaupun semuanya enak, tetap saja saya kembali ke CEKER AYAM. Namanya juga favorit.
Setelah semuanya kenyang, pembayaran ala saweran selesai dilakukan, maka kamipun keluar dari resto yang tetap dipenuhi banyak orang. Badan rasanya lebih hangat walaupun udara di luar tetap saja dingin. Tapi kami kelihatan siap dengan kostum ekstra hangat. Saya sendiri super siap: stocking (ini istilah orang Indonesia untuk menyebut kaos kaki tipis sampai pinggang) dilapisi long john (seperti stocking tapi lebih tebal, dan sedikit lebih tebal dari legging) dan dilapisi lagi dengan celana panjang corduroy. Belum cukup dengan 3 lapisan itu, kaos kaki ekstra panjang sampai di atas lutut menambah lapisan di balik celana panjang saya. Semuanya sudah cukup tebal. Atasan saya pun demikian, 2 lapis di tambah down coat panjang. Sarung tangan pun 2 lapis. Dan untuk pelindung kepala topi wool cukup menghangatkan kepala dan setidaknya melindungi telinga saya dari terpaan angin yang sangat amat dingin setidaknya minus 20 C.
Perut kenyang, tubuh hangat! What a perfect day! Saya dan beberapa teman kemudian memutuskan mengunjungi teman kami yang baru saja pindah ke apartemen baru. Apartemennya nyaman apalagi dengan pemandangan langit yang terhampar luas dengan warna biru pucat langsung di atas boston common. Pohon-pohon tanpa daun yang kelihatan menahan dingin, dan persis di bawah pohon-pohon itu terhampar salju putih menutupi semua yang berada di atas tanah. Orang-orang di taman itu lalu-lalang dan semuanya berkostum seperti kami. Semuanya berbungkus pakaian berlapis dan berjalan dengan badan agak sedikit menunduk cenderung 'mengkerut'kan badan mereka. Khas gaya berjalan saat musim dingin. Menghindari tiupan angin dingin dan berusaha sebisa mungkin berjalan cepat ibaratnya bola yang menggelinding tanpa peduli sekelilingnya. Matahari sore masih bersinar saat saya memperhatikan pemandangan itu. Indah sekali. Seandainya saya pelukis, tentu semua yang saya lihat sore tadi sudah akan ada di kanvas saya. Dari jendela kaca besar apartemen teman saya di lantai 12 [?], semua yang bergerak dan tak bergerak di taman itu menjadi semacam lukisan indah. What a beautiful afternoon!
Kami pun bercakap dengan santai ditambah dengan margarita lezat. Masih larut kami dalam percakapan sore itu ketika seorang teman menerima telpon dari teman kami di New Jersey mengabarkan kalau saya meninggalkan handphone saya di China Pearl. Tak sempat berpikir bagaimana semuanya terjadi, saya tetap meyakinkan diri saya kalau saya sudah memasukkan HP saya ke dalam tas. Kami pun kemudian berbondong-bondong di tengah udara dingin kembali berjalan beberapa blok dari apartemen itu kembali ke resto dimsum. Dan Hp saya ada di sana bersama 1 ballpoint. Hmm? Terima kasih banyak. I really appreciate it! Pikiran saya tenang. Tetapi sebenarnya saya kagum. Betapa baiknya orang yang menemukan HP dan pulpen saya itu dan mengembalikannya. Seandainya hal itu terjadi di negri saya mungkin ceritanya berbeda. Tetapi mungkin juga tidak. Tidak selalu yang buruk terjadi di tanah airku.
Malam ini kembali saya diingatkan akan peristiwa tadi. Dan karenanya tahun baru ini saya awali dengan mengucap syukur bahwa masih ada orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Orang itu orang baik. Saya tidak tahu siapa dia. Tapi saya tahu hari ini saya diberkati melalui orang baik itu. Dan untuk orang itulah saat ini saya mengirimkan ucapan terdalam dari hati saya: SELAMAT TAHUN BARU CINA. May God's abundant blessings be upon you always.
Wednesday, January 21, 2009
The aftermath ...
Hari ini, Rabu 21 Januari 2009. 24 Jam sudah berlalu sejak pelantikan Obama. Masih sangat terasa energi dan suasana, khususnya di televisi, tentang peristiwa bersejarah kemarin. Tentu saja pertanyaan berikutnya yang ada di benak banyak orang, setidaknya dalam benak saya: "what's next?" Apa yang terjadi sesudah semua peristiwa perayaan kemarin selesai?
Tiga hal menarik yang saya rasa dan alami:
Pertama, warna kulit. Pagi ini saya bangun dengan perasaan yang berbeda. Dan dalam doa pagi, saya mengucap syukur karena rakyat Amerika sudah memiliki Presiden baru. Bagi banyak orang Obama adalah representasi ultimate dari sejarah dan mimpi rakyat kulit hitam akan berakhirnya sebuah era, yaitu era rasisme. Sebagai sebuah representasi Obama tentu tidak menyelesaikan sejarah itu. Tetapi setidaknya ia menjadi penanda (signifier) dari [harapan] akan berakhirnya era lama itu. Kepresidenan Obama pun tidak bisa menolak beban sejarah yang harus dipikulnya. Kepresidenannya bukan sekedar sebuah pemilihan dari proses demokrasi di negeri ini. Kepresidenannya bukan sekedar keterpilihan seorang kulit hitam. Lebih dalam dari itu. Bagi warga kulit hitam, kepresidenan Obama menjadi signifier bahwa dalam sejarah kelam bangsa ini ada yang bisa diselesaikan. Dan bangsa ini patut bangga, karena mereka setidaknya mampu menyelesaikan sebuah masalah: bahwa tidak mungkin seorang yang tidak berkulit putih menjadi presiden. Obama dan keterpilihannya pun menjadi penanda dari kedewasaan bangsa ini untuk menjawab 1 pertanyaan 'sederhana': apakah tidak mungkin orang yang bukan kulit putih menjadi presiden? Tanggal 4 November 2008 dan 20 January 2009 adalah jawaban bangsa Amerika terhadap pertanyaan itu. Dan jawaban mereka, diteriakkan oleh lebih dari 1 juta orang dalam perayaan kemarin: Mungkin! Dan ya, SUDAH TERJADI! Karena itu, tanggal 20 Januari 2009 menjadi yang di [beri]tanda[i] (signified) bahwa yang mungkin itu sudah terjadi!
Kalau begitu apa hubungan jawaban itu dengan diri saya? Saya tidak perlu mengada-ada untuk mengatakan "Ya ada hubungannya". Ini yang tidak terlalu sering disitir oleh media di Amerika. Saya merasa cukup sahih untuk menjadi bagian dari prosesi dan arak-arakan perayaan demokrasi bangsa ini. Bukan karena saya berkulit hitam, kulit saya lebih mirip coklat susu, khas warna kulit orang Sulawesi Tenggara yang melewatkan masa kecilnya di tepi laut lepas. Atau mungkin juga karena warna kulit saya. Mungkin keduanya. Tetapi lebih mungkin lagi, karena Obama per se is colorless yet colorful. Ayahnya kulit hitam, ibunya kulit putih, sehingga ia menjadi perpaduan kedua warna itu. Ayah tirinya orang Jawa, mungkin warna kulitnya tidak terlalu jauh berbeda dengan saya. Adik tirinya, berkulit lebih cerah cenderung putih. Istrinya kulit hitam, kedua anak mereka warna kulitnya perpaduan dari warna kulit kedua orang tuanya. Ipar Obama yang kulit hitam beristrikan seorang kulit putih. Dan semua warna-warni itu terlihat unik dan menarik di layar kaca tivi kecil di kamar saya. Karena komposisi warna yang unik dalam darah dan hidup Obama maka dia pun menjadi both colorless and colorful. Latar belakang inilah yang menjadikan Obama secara natural sebagai pribadi yang membangun relasi, menjadi seperti jembatan yang hidup 'in between' untuk menjembatani perbedaan, tetapi juga yang memberi makna dan karenanya memberi definisi (baru) terhadap perbedaan itu. Tetapi mengapa klaim masyarakat kulit hitam menjadi sangat kuat atas Obama. Di sinilah arti terdalam dari kehadiran Obama sebagai signifier atas sejarah kelam bangsa ini. Satu warna dari komposisi warna Obama menjadi signifier dari warna-warna lainnya. Tentu tidak ada masalah di sana, selama yang signifier itu tidak lalu mendominasi warna-warna yang lain. Secara teologis, saya pikir, ke'hitam'an Obama memampukannya untuk berdiri di atas titik sejarah yang jelas dan karenanya memampukannya untuk mengidentifikasi dirinya pada subjek-subjek sejarah itu, berbicara sebagai (as) bagian dari sejarah itu dan karenanya menjadi relevan. Pada saat yang sama, ke'tidak hitam'an-nya menjadi sumber otentisitas bagi Obama untuk menjelajah pada arus sejarah yang berbeda, berbicara sebagai (as) bagian dari sejarah itu dan karenanya menjadi relevan. Tetapi yang paling mendasar adalah pada dirinya sendiri sebagai pribadi yang otentik, Obama bisa berbicara kepada (to) arus-arus sejarah itu, dan tetap menjadi relevan, bahkan membiarkan dirinya menjadi sasaran dari (from) suara-suara itu.
Kedua, wall street. Saat peristiwa inagurasi kemarin, nilai saham di Wall Street turun drastis. Tentu saja ini bukan penanda yang baik. Tetapi gonjang-ganjing itu justru memperlihatkan situasi nyata yang langsung dihadapi Obama dan yang kelihatannya sudah siap ditanggapinya bersama tim ekonominya bahkan 2 minggu sebelum hari inagurasinya. Pertanyaannya tentu apakah Obama akan berhasil mengatasinya? Dia akan mengatasinya bersama seluruh rakyat yang dipimpinnya. Itulah janjinya dalam pidatonya kemarin. Dan hari ini memperlihatkan sejak hari pertama Obama sudah berhadapan langsung dengan tantangan itu. Mungkin hanya 2 jam dia habiskan untuk tidur, tetapi dia siap, dan dia sudah mengantisipasi tantangan itu, dia menawarkan pilihan-pilihan penyelesaian kepada bangsanya. Dia bukan pesulap, tapi semoga dia menjadi presiden yang bertanggungjawab dan setia pada komitmen kepemimpinan pelayanannya. Semoga! Setidaknya itulah doa saya pagi tadi.
Ketiga, koran lokal gratis. Jam 8.25 pagi tadi saya menumpangi kereta yang lewat di depan apartemen. Di Boston kereta menggunakan jalur khusus tetapi tetap di jalan yang sama seperti mobil dan kendaraan lainnya. Kereta seperti itu disebut "T" (entah untuk train, atau untuk trem atau untuk transportation... kelihatannya ketiganya cocok). Ada urusan di pagi hari yang harus saya selesaikan di downtown. Suhu pagi ini termasuk dingin (20F), tetapi saya tetap semangat keluar pagi hari. Yang pasti karena suasana hati saya berbeda. Tak terkatakan, tetapi bukan sedih. Mungkin lebih tepat, plong. Karena di gedung putih ada keluarga baru. Lalu kenapa saya merasa plong. Saya tidak tahu! Tetapi perasaan itu menyenangkan dan lebih baik saya menikmatinya dari pada memikirkannya.
Setelah urusan saya selesai di downtown, saya menumpangi subway (bukan busway seperti di Jakarta dan Surabaya). Yang ini jenis kereta lain. Fasilitas untuk penumpang lebih besar dan kecepatannya lebih tinggi karena tidak harus mengikuti peraturan lampu lalu lintas seperti kendaraan di atas tanah. Kereta bawah tanah ini biasa dikenali dengan warnanya: Merah, Orange, dan Biru. Tetapi biasanya juga kereta bawah tanah ini naik ke atas melewati jembatan yang khusus disiapkan. Kereta bawah tanah ini jangkauannya lebih luas dan menghubungkan wilayah-wilayah yang tidak dijangkau oleh kereta yang lewat di depan apartemen saya. By the way, kereta yang lewat di depan tempat tinggal saya itu warnanya hijau. Memang, berbeda dengan New York yang sistem transportasinya lebih hebat dan karenanya lebih rumit dengan semua nomor yang harus diingat, di Boston lebih sederhana. Semuanya diatur dengan menggunakan warna. Menarik untuk orang seperti saya yang cenderung visual. Tetapi tidak terlalu menolong untuk orang yang buta warna. Kalau untuk yang totally blind mungkin sudah disiapkan pelayanan khusus; saya belum yakin, mungkin karena belum pernah melihat langsung ketersediaan fasilitas ini.
Anyway... Sebelum naik kereta (merah) itu, saya mengingatkan diri saya untuk mengambil koran gratis yang biasanya tersedia di kotak-kotak koran setiap pagi. Tetapi kelihatannya harapan saya tipis untuk mendapatkan koran itu karena 2 hal: pertama, sudah hampir 10.25 pagi ketika kereta itu sedang menuju ke tempat saya. Jadi tidak mungkin rasanya masih ada koran yang tersedia di kotak-kotak koran di park strees station tempat saya nanti hendak berganti ke kereta hijau. Biasanya orang-orang mengambil koran saat berangkat kerja. kedua, menjadi lebih tipis kemungkinan itu karena pasti topik hari ini adalah tentang inagurasi kemarin. Pasti lebih banyak orang yang menginginkan koran hari ini, apalagi gratis.
Tetapi pikiran saya tidak semuanya benar. Begitu masuk ke kereta ternyata ada orang yang meninggalkan koran bekas bacaannya di atas tempat duduk. Saya pun mengambil koran itu dan memasukkannya dalam tas. Setelah saya pindah ke kereta hijau, saya mengeluarkan koran kecil gratis dan bekas itu dan mengecek isinya. Sampul depan saya kenali karena kemarin saya melewatkan waktu menonton seluruh prosesi yang disiarkan langsung stasiun TV ABC. Gambar-gambar lainnya saya kenali juga dari prosesi kemarin. Tetapi yang saya 'tunggu-tunggu' ada di sana. Teks pidato Obama. Tentu saja bisa saya download ... seperti yang sudah dilakukan beberapa teman di Indonesia. Tetapi rasanya berbeda membaca teks pidato inagurasi seorang presiden di koran kecil, gratis, dan bekas. Pidato yang intinya saya hafal, tidak seperti Obama yang menghafal kata demi kata dari pidatonya. Pidato yang inspiratif. Berbeda rasanya bagi seorang rakyat biasa membaca pidato seorang presiden di atas koran bekas, gratis, dan priceless. Seandainya dia presidenku!
So, the aftermath means ... something is different and it feels nice, eventhough it does not necessarily belong to me.
Tiga hal menarik yang saya rasa dan alami:
Pertama, warna kulit. Pagi ini saya bangun dengan perasaan yang berbeda. Dan dalam doa pagi, saya mengucap syukur karena rakyat Amerika sudah memiliki Presiden baru. Bagi banyak orang Obama adalah representasi ultimate dari sejarah dan mimpi rakyat kulit hitam akan berakhirnya sebuah era, yaitu era rasisme. Sebagai sebuah representasi Obama tentu tidak menyelesaikan sejarah itu. Tetapi setidaknya ia menjadi penanda (signifier) dari [harapan] akan berakhirnya era lama itu. Kepresidenan Obama pun tidak bisa menolak beban sejarah yang harus dipikulnya. Kepresidenannya bukan sekedar sebuah pemilihan dari proses demokrasi di negeri ini. Kepresidenannya bukan sekedar keterpilihan seorang kulit hitam. Lebih dalam dari itu. Bagi warga kulit hitam, kepresidenan Obama menjadi signifier bahwa dalam sejarah kelam bangsa ini ada yang bisa diselesaikan. Dan bangsa ini patut bangga, karena mereka setidaknya mampu menyelesaikan sebuah masalah: bahwa tidak mungkin seorang yang tidak berkulit putih menjadi presiden. Obama dan keterpilihannya pun menjadi penanda dari kedewasaan bangsa ini untuk menjawab 1 pertanyaan 'sederhana': apakah tidak mungkin orang yang bukan kulit putih menjadi presiden? Tanggal 4 November 2008 dan 20 January 2009 adalah jawaban bangsa Amerika terhadap pertanyaan itu. Dan jawaban mereka, diteriakkan oleh lebih dari 1 juta orang dalam perayaan kemarin: Mungkin! Dan ya, SUDAH TERJADI! Karena itu, tanggal 20 Januari 2009 menjadi yang di [beri]tanda[i] (signified) bahwa yang mungkin itu sudah terjadi!
Kalau begitu apa hubungan jawaban itu dengan diri saya? Saya tidak perlu mengada-ada untuk mengatakan "Ya ada hubungannya". Ini yang tidak terlalu sering disitir oleh media di Amerika. Saya merasa cukup sahih untuk menjadi bagian dari prosesi dan arak-arakan perayaan demokrasi bangsa ini. Bukan karena saya berkulit hitam, kulit saya lebih mirip coklat susu, khas warna kulit orang Sulawesi Tenggara yang melewatkan masa kecilnya di tepi laut lepas. Atau mungkin juga karena warna kulit saya. Mungkin keduanya. Tetapi lebih mungkin lagi, karena Obama per se is colorless yet colorful. Ayahnya kulit hitam, ibunya kulit putih, sehingga ia menjadi perpaduan kedua warna itu. Ayah tirinya orang Jawa, mungkin warna kulitnya tidak terlalu jauh berbeda dengan saya. Adik tirinya, berkulit lebih cerah cenderung putih. Istrinya kulit hitam, kedua anak mereka warna kulitnya perpaduan dari warna kulit kedua orang tuanya. Ipar Obama yang kulit hitam beristrikan seorang kulit putih. Dan semua warna-warni itu terlihat unik dan menarik di layar kaca tivi kecil di kamar saya. Karena komposisi warna yang unik dalam darah dan hidup Obama maka dia pun menjadi both colorless and colorful. Latar belakang inilah yang menjadikan Obama secara natural sebagai pribadi yang membangun relasi, menjadi seperti jembatan yang hidup 'in between' untuk menjembatani perbedaan, tetapi juga yang memberi makna dan karenanya memberi definisi (baru) terhadap perbedaan itu. Tetapi mengapa klaim masyarakat kulit hitam menjadi sangat kuat atas Obama. Di sinilah arti terdalam dari kehadiran Obama sebagai signifier atas sejarah kelam bangsa ini. Satu warna dari komposisi warna Obama menjadi signifier dari warna-warna lainnya. Tentu tidak ada masalah di sana, selama yang signifier itu tidak lalu mendominasi warna-warna yang lain. Secara teologis, saya pikir, ke'hitam'an Obama memampukannya untuk berdiri di atas titik sejarah yang jelas dan karenanya memampukannya untuk mengidentifikasi dirinya pada subjek-subjek sejarah itu, berbicara sebagai (as) bagian dari sejarah itu dan karenanya menjadi relevan. Pada saat yang sama, ke'tidak hitam'an-nya menjadi sumber otentisitas bagi Obama untuk menjelajah pada arus sejarah yang berbeda, berbicara sebagai (as) bagian dari sejarah itu dan karenanya menjadi relevan. Tetapi yang paling mendasar adalah pada dirinya sendiri sebagai pribadi yang otentik, Obama bisa berbicara kepada (to) arus-arus sejarah itu, dan tetap menjadi relevan, bahkan membiarkan dirinya menjadi sasaran dari (from) suara-suara itu.
Kedua, wall street. Saat peristiwa inagurasi kemarin, nilai saham di Wall Street turun drastis. Tentu saja ini bukan penanda yang baik. Tetapi gonjang-ganjing itu justru memperlihatkan situasi nyata yang langsung dihadapi Obama dan yang kelihatannya sudah siap ditanggapinya bersama tim ekonominya bahkan 2 minggu sebelum hari inagurasinya. Pertanyaannya tentu apakah Obama akan berhasil mengatasinya? Dia akan mengatasinya bersama seluruh rakyat yang dipimpinnya. Itulah janjinya dalam pidatonya kemarin. Dan hari ini memperlihatkan sejak hari pertama Obama sudah berhadapan langsung dengan tantangan itu. Mungkin hanya 2 jam dia habiskan untuk tidur, tetapi dia siap, dan dia sudah mengantisipasi tantangan itu, dia menawarkan pilihan-pilihan penyelesaian kepada bangsanya. Dia bukan pesulap, tapi semoga dia menjadi presiden yang bertanggungjawab dan setia pada komitmen kepemimpinan pelayanannya. Semoga! Setidaknya itulah doa saya pagi tadi.
Ketiga, koran lokal gratis. Jam 8.25 pagi tadi saya menumpangi kereta yang lewat di depan apartemen. Di Boston kereta menggunakan jalur khusus tetapi tetap di jalan yang sama seperti mobil dan kendaraan lainnya. Kereta seperti itu disebut "T" (entah untuk train, atau untuk trem atau untuk transportation... kelihatannya ketiganya cocok). Ada urusan di pagi hari yang harus saya selesaikan di downtown. Suhu pagi ini termasuk dingin (20F), tetapi saya tetap semangat keluar pagi hari. Yang pasti karena suasana hati saya berbeda. Tak terkatakan, tetapi bukan sedih. Mungkin lebih tepat, plong. Karena di gedung putih ada keluarga baru. Lalu kenapa saya merasa plong. Saya tidak tahu! Tetapi perasaan itu menyenangkan dan lebih baik saya menikmatinya dari pada memikirkannya.
Setelah urusan saya selesai di downtown, saya menumpangi subway (bukan busway seperti di Jakarta dan Surabaya). Yang ini jenis kereta lain. Fasilitas untuk penumpang lebih besar dan kecepatannya lebih tinggi karena tidak harus mengikuti peraturan lampu lalu lintas seperti kendaraan di atas tanah. Kereta bawah tanah ini biasa dikenali dengan warnanya: Merah, Orange, dan Biru. Tetapi biasanya juga kereta bawah tanah ini naik ke atas melewati jembatan yang khusus disiapkan. Kereta bawah tanah ini jangkauannya lebih luas dan menghubungkan wilayah-wilayah yang tidak dijangkau oleh kereta yang lewat di depan apartemen saya. By the way, kereta yang lewat di depan tempat tinggal saya itu warnanya hijau. Memang, berbeda dengan New York yang sistem transportasinya lebih hebat dan karenanya lebih rumit dengan semua nomor yang harus diingat, di Boston lebih sederhana. Semuanya diatur dengan menggunakan warna. Menarik untuk orang seperti saya yang cenderung visual. Tetapi tidak terlalu menolong untuk orang yang buta warna. Kalau untuk yang totally blind mungkin sudah disiapkan pelayanan khusus; saya belum yakin, mungkin karena belum pernah melihat langsung ketersediaan fasilitas ini.
Anyway... Sebelum naik kereta (merah) itu, saya mengingatkan diri saya untuk mengambil koran gratis yang biasanya tersedia di kotak-kotak koran setiap pagi. Tetapi kelihatannya harapan saya tipis untuk mendapatkan koran itu karena 2 hal: pertama, sudah hampir 10.25 pagi ketika kereta itu sedang menuju ke tempat saya. Jadi tidak mungkin rasanya masih ada koran yang tersedia di kotak-kotak koran di park strees station tempat saya nanti hendak berganti ke kereta hijau. Biasanya orang-orang mengambil koran saat berangkat kerja. kedua, menjadi lebih tipis kemungkinan itu karena pasti topik hari ini adalah tentang inagurasi kemarin. Pasti lebih banyak orang yang menginginkan koran hari ini, apalagi gratis.
Tetapi pikiran saya tidak semuanya benar. Begitu masuk ke kereta ternyata ada orang yang meninggalkan koran bekas bacaannya di atas tempat duduk. Saya pun mengambil koran itu dan memasukkannya dalam tas. Setelah saya pindah ke kereta hijau, saya mengeluarkan koran kecil gratis dan bekas itu dan mengecek isinya. Sampul depan saya kenali karena kemarin saya melewatkan waktu menonton seluruh prosesi yang disiarkan langsung stasiun TV ABC. Gambar-gambar lainnya saya kenali juga dari prosesi kemarin. Tetapi yang saya 'tunggu-tunggu' ada di sana. Teks pidato Obama. Tentu saja bisa saya download ... seperti yang sudah dilakukan beberapa teman di Indonesia. Tetapi rasanya berbeda membaca teks pidato inagurasi seorang presiden di koran kecil, gratis, dan bekas. Pidato yang intinya saya hafal, tidak seperti Obama yang menghafal kata demi kata dari pidatonya. Pidato yang inspiratif. Berbeda rasanya bagi seorang rakyat biasa membaca pidato seorang presiden di atas koran bekas, gratis, dan priceless. Seandainya dia presidenku!
So, the aftermath means ... something is different and it feels nice, eventhough it does not necessarily belong to me.
Tuesday, January 20, 2009
President Obama, catatan kelima: Rosa Parks, MLK, dan Generasi Muda
Sejarah panjang perbudakan dan rasisme di Amerika Serikat menjadi latar belakang dari salah satu makna penting kepresidenan Obama. Rosa Parks dengan aksi militan tanpa kekerasan menjadi salah satu titik penting dalam arus sejarah ini. Hari itu 21 Desember 1956 Rosa Parks menumpangi sebuah bis di Montgomery, Alabama, sebagai bentu aksi boycott menentang peraturan yang menentukan posisi kulit hitam dan putih dalam bis. Peraturannya sederhana: Yang kulit putih duduk di baris paling depan terus sampai ke belakang. Sebaliknya yang kulit hitam duduk di baris paling belakang terus sampai ke depan. Berarti, setiap kali seorang kulit hitam naik dia harus menuju baris paling belakang. Kalau kemudian bis penuh dan bagian belakang sampai tengah dipenuhi kulit hitam, lalu seorang kulit putih naik, maka si kulit hitam yang 'kebetulan' mendapat posisi di baris tengah harus berdiri dan 'memberikan' tempat duduknya pada si kulit putih. Peraturan itu berakar pada ideologi rasis yang memisahkan manusia atas nama warna kulit, dan karenanya mendiskriminasi masyarakat kulit hitam. Ideologinya jelas: Manusia kulit hitam tidak setara, inferior, lebih rendah dari manusia kulit putih. Karena itu kedua golongan manusia ini tidak boleh disatukan karena yang hitam akan menodai, bahkan merusak kesucian yang putih. Karena itu yang hitam tidak boleh dicampur dengan yang putih. Rosa Parks dengan teguh duduk walaupun laki-laki muda kulit putih menghina dan memaksanya memberikan tempat duduk itu. Bagi Rosa saat itu apapun warna kulitnya mereka adalah manusia yang sama dan karena itu punya hak yang sama untuk duduk di mana pun mereka inginkan di dalam bis itu! Keteguhan Rosa Parks adalah bagian dari proses boycott yang berlangsung sekitar 2 minggu sejak awal Desember tahun itu. Rosa kemudian ditangkap. Tetapi hasil dari proses perjuangan itu adalah peraturan itu dihapus karena dianggap tidak konstitusional.
Keteguhan Rosa menciptakan, dan kemudian dikenang, sebagai momentum sejarah! Sejarah perjuangan tanpa kekerasan demi pembebasan dari segregasi dalam masyarakat yang rasis!
Martin Luther King, Jr. sudah sangat dikenal dengan pidatonya, I have a dream! Keterpilihan Obama dilihat sebagai perwujudan dari mimpi MLK. Tetapi hari ini mimpi Rosa Park, momentum sederhana tetapi luar biasa yang dia ciptakan di dalam bis itu, turut terwujud.
Dan hari ini, mimpi Amerika juga terwujud, karena dari sekitar 1.800.000 orang yang hadir dari berbagai lapisan masyarakat untuk menyaksikan langsung upacara pelantikan Obama di Washington, D.C. pagi-sore tadi, jumlah generasi muda yang hadir luar biasa besar. Inilah mimpi Amerika yang sedang terwujud itu: keterlibatan dan kepedulian generasi muda untuk membawa perubahan bagi negri mereka dan (semoga) bagi dunia.
Keteguhan Rosa menciptakan, dan kemudian dikenang, sebagai momentum sejarah! Sejarah perjuangan tanpa kekerasan demi pembebasan dari segregasi dalam masyarakat yang rasis!
Martin Luther King, Jr. sudah sangat dikenal dengan pidatonya, I have a dream! Keterpilihan Obama dilihat sebagai perwujudan dari mimpi MLK. Tetapi hari ini mimpi Rosa Park, momentum sederhana tetapi luar biasa yang dia ciptakan di dalam bis itu, turut terwujud.
Dan hari ini, mimpi Amerika juga terwujud, karena dari sekitar 1.800.000 orang yang hadir dari berbagai lapisan masyarakat untuk menyaksikan langsung upacara pelantikan Obama di Washington, D.C. pagi-sore tadi, jumlah generasi muda yang hadir luar biasa besar. Inilah mimpi Amerika yang sedang terwujud itu: keterlibatan dan kepedulian generasi muda untuk membawa perubahan bagi negri mereka dan (semoga) bagi dunia.
President Obama, catatan keempat: Semua yang baru
Banyak hal menarik terjadi hari ini di seputar pelantikan Obama. Rasanya cocok kalau menamakan yang menarik itu "semua yang baru."
Pertama, yang baru di white house. Saat semua mata tertuju pada transisi kekuasaan dari George W. Bush kepada Barack Husein Obama, mungkin tidak banyak yang menganggap penting 'transisi' apa yang terjadi di belakang layar. Pagi tadi sesudah mengikuti ibadah di gereja Episkopal St. John, Presiden [terpilih] dan Michelle Obama mendatangi white house untuk menikmati sarapan pagi bersama Presiden dan Laura Bush. Hal baru terjadi karena pada saat itu [dan menurut pemberita] Michelle Obama membawa semacam 'buah tangan' untuk Laura Bush. Itulah kali pertama gesture of kindness seperti itu terjadi. Kemudian baru diberitakan bahwa 'kado' yang diberikan oleh Michelle adalah jurnal dan ballpoint. Sepertinya mendukung Laura Bush untuk menulis pengalamannya sebagai first lady selama 8 tahun.
Kedua, yang baru [juga] di white house. Saat prosesi penyerahan-terimaan kekuasaan sedang berlangsung sebuah kegiatan penting juga sedang terjadi di gedung putih. Para petugas pengangkat barang dan pengatur sibuk memasukkan barang-barang milik keluarga Obama. Sejak pagi kegiatan itu berlangsung dengan harapan begitu Presiden Obama dan keluarga siap memasuki gedung putih sesudah acara pelantikan selesai, maka rumah baru mereka pun sudah siap. Seingat saya sekitar 70-90 orang terlibat dalam 'prosesi' pemasukan dan pengaturan barang-barang di rumah putih itu.
Semuanya berlangsung pada hari yang sama. Yang publik dan yang domestik, yang politis dan yang religius! Untuk saya hal ini menarik karena hari ini menjadi saat dan ruang di mana keseimbangan itu diberi tempat.
Ketiga, yang baru di luar kebiasaan hari inagurasi. Saat saya mengetik, peristiwanya sedang terjadi. Pesta malam inagurasi. Ini kali pertama Presiden dan Ibu Negara mengadakan pesta inagurasi yang terbuka untuk publik. Pesta ini diberi nama "the Neighborhood Ball!" Bisa dibayangkan bahwa yang hadir datang dari berbagai lapisan. Dan yang pasti komunitas urban di Washington, D.C. diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari riuh-rendahnya pesta demokrasi. Saya juga baru tahu bahwa sebelumnya, Presiden George W. Bush dengan sengaja tidak membangun 'tali silaturahmi' dengan masyarakat lokal di D.C. Obama dan Michelle, dengan latar belakang mereka sebagai community organizers menggunakan pendekatan yang berbeda dengan menjangkau (reaching out) local communities. Dan malam ini, di pesta pertama dari 10 pesta yang akan mereka hadiri, President dan Ibu Negara akan melakukan dansa pertama (their first dance) di pesta neighborhood ini. Di pesta ini kelompok masyarakat dari berbagai lapisan hadir, dari community organizers, aktifis sosial, guru, artis hollywood, politikus, dll.
Dari yang baru ini, 2 hal kelihatannya sudah menjadi ciri kepemimpinan-pelayanan Obama: Membawa pembaruan sebagai element untuk menjangkau (reaching out) dan menghubungkan (building bridges) perbedaan-perbedaan yang ada.
Pertama, yang baru di white house. Saat semua mata tertuju pada transisi kekuasaan dari George W. Bush kepada Barack Husein Obama, mungkin tidak banyak yang menganggap penting 'transisi' apa yang terjadi di belakang layar. Pagi tadi sesudah mengikuti ibadah di gereja Episkopal St. John, Presiden [terpilih] dan Michelle Obama mendatangi white house untuk menikmati sarapan pagi bersama Presiden dan Laura Bush. Hal baru terjadi karena pada saat itu [dan menurut pemberita] Michelle Obama membawa semacam 'buah tangan' untuk Laura Bush. Itulah kali pertama gesture of kindness seperti itu terjadi. Kemudian baru diberitakan bahwa 'kado' yang diberikan oleh Michelle adalah jurnal dan ballpoint. Sepertinya mendukung Laura Bush untuk menulis pengalamannya sebagai first lady selama 8 tahun.
Kedua, yang baru [juga] di white house. Saat prosesi penyerahan-terimaan kekuasaan sedang berlangsung sebuah kegiatan penting juga sedang terjadi di gedung putih. Para petugas pengangkat barang dan pengatur sibuk memasukkan barang-barang milik keluarga Obama. Sejak pagi kegiatan itu berlangsung dengan harapan begitu Presiden Obama dan keluarga siap memasuki gedung putih sesudah acara pelantikan selesai, maka rumah baru mereka pun sudah siap. Seingat saya sekitar 70-90 orang terlibat dalam 'prosesi' pemasukan dan pengaturan barang-barang di rumah putih itu.
Semuanya berlangsung pada hari yang sama. Yang publik dan yang domestik, yang politis dan yang religius! Untuk saya hal ini menarik karena hari ini menjadi saat dan ruang di mana keseimbangan itu diberi tempat.
Ketiga, yang baru di luar kebiasaan hari inagurasi. Saat saya mengetik, peristiwanya sedang terjadi. Pesta malam inagurasi. Ini kali pertama Presiden dan Ibu Negara mengadakan pesta inagurasi yang terbuka untuk publik. Pesta ini diberi nama "the Neighborhood Ball!" Bisa dibayangkan bahwa yang hadir datang dari berbagai lapisan. Dan yang pasti komunitas urban di Washington, D.C. diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari riuh-rendahnya pesta demokrasi. Saya juga baru tahu bahwa sebelumnya, Presiden George W. Bush dengan sengaja tidak membangun 'tali silaturahmi' dengan masyarakat lokal di D.C. Obama dan Michelle, dengan latar belakang mereka sebagai community organizers menggunakan pendekatan yang berbeda dengan menjangkau (reaching out) local communities. Dan malam ini, di pesta pertama dari 10 pesta yang akan mereka hadiri, President dan Ibu Negara akan melakukan dansa pertama (their first dance) di pesta neighborhood ini. Di pesta ini kelompok masyarakat dari berbagai lapisan hadir, dari community organizers, aktifis sosial, guru, artis hollywood, politikus, dll.
Dari yang baru ini, 2 hal kelihatannya sudah menjadi ciri kepemimpinan-pelayanan Obama: Membawa pembaruan sebagai element untuk menjangkau (reaching out) dan menghubungkan (building bridges) perbedaan-perbedaan yang ada.
President Obama, catatan ketiga: Transition of Power
Dalam sejarah sosial-politik bangsa ini, dengan segala intrik politik yang terjadi, apalagi sebelum pemilihan presiden, dan selama masa kampanye, kita bisa melihat betapa ekspresi dan pengalaman demokrasi menjadi proses belajar yang terus-menerus. Tidak pernah berhenti, karena demokrasi itu pada dirinya sendiri adalah proses dan bukan tujuan akhir. Dan ini salah satu refleksi yang menguat saat saya menyaksikan bulan-bulan kampanye partai Demokrat dan Republik di negri ini. Tentu saja ada rasa sakit hati, marah, mungkin dendam ketika masing-masing partai, dan kemudian calon, baik dalam diri partai masing-masing maupun ketika tinggal dua calon yang tersisa (McCain/Republik dan Obama/Demokrat).
Yang menarik dari semua proses ini adalah orang-orang yang bersain untuk kursi kepresidenan mampu keluar dari penyesalan dan kemarahan karena tidak terpilih. Hillary Clinton, yang nota bene adalah favorit saya, keluar dari 'trauma' kekalahan dari Obama. Ia keluar sebagai pribadi yang luar biasa dan malah berkampanye untuk mendukung keterpilihan Obama. Bagi Hillary, yang paling penting adalah tujuan dan visi partai demokrat.
Kemudian kampanye makin menguat baik dari pihak Obama maupun McCain. Dan akhirnya 4 November 2008 dunia menyaksikan laki-laki Amerika berayah Kenya (hitam) dan beribu Amerika (putih) terpilih untuk pertama kalinya menjadi presiden. Saat Obama meyampaikan pidato kemenangannya di Chicago, McCain di Arizona menyampaikan pidato kekalahannya.
Tidak ada saling mengejek. Yang ada dari keduanya adalah penghargaan dan penghormatan.
Semalam, 19 Januari 2009, Obama mengadakan acara resmi makan malam, yang salah satunya khusus diadakan sebagai tanda penghormatan pada McCain. Penghargaan pada 'lawan' politik dan pengakuan akan jasa-jasa dan komitmen 'lawan' politik yang sesungguhnya adalah 'kawan' sebangsa.
Lalu pagi ini, sebelum acara pelatikan ritual 'transisi kekuasaan' dilakukan dari Presiden George W. Bush dan President (elect) Barack Husein Obama. Semuanya berlangsung mulus dan damai. Bahkan sejak bulan November lalu, Presidet dan Nyonya Laura Bush sudah mengundang keluarga Obama untuk berkunjung ke White House.
Ritual serah-terima jabatan yang menyentuh aspek informal dan formal. Dan saat meyaksikan semua itu saya disadarkan bahwa negri ini yang di luar dikenal sebagai arogan dan tak berperikemanusiaan, khususnya beberapa tahun terakhir, berhasil dalam sejarah politiknya mempertahankan transisi kekuasaan yang damai. Luar biasa! Kekuasaan adalah tanggung jawab yang harus diemban. Ia bukan sesuatu yang kekal, karena itu ketika saatnya tiba ia harus diserahkan dengan sukarela dan damai. Kekuasaan [baca khususnya: kepresidenan] bukan milik pribadi. Ia milik bangsa.
Inilah proses belajar demokrasi di negeri ini. Kepresidenan bukan tentang pribadi. Dan ini yang menguat dalam pidato Obama. Hanya 3 kali dia menggunakan kata "I" [saya] dan berkali-kali menggunakan kata "we" [kita]. Kepresidenan (presidency) adalah mengenai bangsa/rakyat (the people) karena itu setiap transisi kekuasaan harus berorientasi pada kepentingan bangsa bukan pada kepentingan pemimpin. Hari ini saya kembali diingatkan bahwa seorang presiden tidak cukup hanya seorang politikus, atau yang mengerti politik. Dia pertama dan terutama harusnya seorang negarawan. Seorang negarawan/wati adalah seseorang yang berakar di dalam pengenalan diri yang baik dan visi yang jelas dan mampu melihat dirinya di dalam arak-arakan bangsa yang dipimpin dan dilayaninya. Dan di dalam diri Obama saya melihat citra negarawan yang melayani secara bertanggung jawab. Tentu, masa kepresidenannyalah yang akan membuktikan apakah dia sungguh seperti yang dia katakan. Sejarah yang akan menilainya. But at this moment, I just wanted to join millions of Americans in joy and gratitude for having witnessed the history where hope is possible, where the dreams of a visioner woman, Rosa Park, and a minister, Dr. Martin Luther King, Jr. become real!
Yang menarik dari semua proses ini adalah orang-orang yang bersain untuk kursi kepresidenan mampu keluar dari penyesalan dan kemarahan karena tidak terpilih. Hillary Clinton, yang nota bene adalah favorit saya, keluar dari 'trauma' kekalahan dari Obama. Ia keluar sebagai pribadi yang luar biasa dan malah berkampanye untuk mendukung keterpilihan Obama. Bagi Hillary, yang paling penting adalah tujuan dan visi partai demokrat.
Kemudian kampanye makin menguat baik dari pihak Obama maupun McCain. Dan akhirnya 4 November 2008 dunia menyaksikan laki-laki Amerika berayah Kenya (hitam) dan beribu Amerika (putih) terpilih untuk pertama kalinya menjadi presiden. Saat Obama meyampaikan pidato kemenangannya di Chicago, McCain di Arizona menyampaikan pidato kekalahannya.
Tidak ada saling mengejek. Yang ada dari keduanya adalah penghargaan dan penghormatan.
Semalam, 19 Januari 2009, Obama mengadakan acara resmi makan malam, yang salah satunya khusus diadakan sebagai tanda penghormatan pada McCain. Penghargaan pada 'lawan' politik dan pengakuan akan jasa-jasa dan komitmen 'lawan' politik yang sesungguhnya adalah 'kawan' sebangsa.
Lalu pagi ini, sebelum acara pelatikan ritual 'transisi kekuasaan' dilakukan dari Presiden George W. Bush dan President (elect) Barack Husein Obama. Semuanya berlangsung mulus dan damai. Bahkan sejak bulan November lalu, Presidet dan Nyonya Laura Bush sudah mengundang keluarga Obama untuk berkunjung ke White House.
Ritual serah-terima jabatan yang menyentuh aspek informal dan formal. Dan saat meyaksikan semua itu saya disadarkan bahwa negri ini yang di luar dikenal sebagai arogan dan tak berperikemanusiaan, khususnya beberapa tahun terakhir, berhasil dalam sejarah politiknya mempertahankan transisi kekuasaan yang damai. Luar biasa! Kekuasaan adalah tanggung jawab yang harus diemban. Ia bukan sesuatu yang kekal, karena itu ketika saatnya tiba ia harus diserahkan dengan sukarela dan damai. Kekuasaan [baca khususnya: kepresidenan] bukan milik pribadi. Ia milik bangsa.
Inilah proses belajar demokrasi di negeri ini. Kepresidenan bukan tentang pribadi. Dan ini yang menguat dalam pidato Obama. Hanya 3 kali dia menggunakan kata "I" [saya] dan berkali-kali menggunakan kata "we" [kita]. Kepresidenan (presidency) adalah mengenai bangsa/rakyat (the people) karena itu setiap transisi kekuasaan harus berorientasi pada kepentingan bangsa bukan pada kepentingan pemimpin. Hari ini saya kembali diingatkan bahwa seorang presiden tidak cukup hanya seorang politikus, atau yang mengerti politik. Dia pertama dan terutama harusnya seorang negarawan. Seorang negarawan/wati adalah seseorang yang berakar di dalam pengenalan diri yang baik dan visi yang jelas dan mampu melihat dirinya di dalam arak-arakan bangsa yang dipimpin dan dilayaninya. Dan di dalam diri Obama saya melihat citra negarawan yang melayani secara bertanggung jawab. Tentu, masa kepresidenannyalah yang akan membuktikan apakah dia sungguh seperti yang dia katakan. Sejarah yang akan menilainya. But at this moment, I just wanted to join millions of Americans in joy and gratitude for having witnessed the history where hope is possible, where the dreams of a visioner woman, Rosa Park, and a minister, Dr. Martin Luther King, Jr. become real!
President Obama: catatan kedua: Ritual Pelantikan 12:38pm
Say 'Amin" ... 'Amin!", demikian kata-kata penutup benediction dari Pdt. Joseph Lowry, pionir, bersama Martin Luther King, Jr. gerakan anti rasisme di Amerika.
Saya tertarik pada prosesi ritual pelantikan Obama.
Dua hal menarik dari ritual ini adalah
Pertama, the power of symbolism
Alkitab dan Sejarah. Presiden Obama memilih menggunakan Alkitab milik Presiden Abraham Lincoln, yang menandatangani deklarasi anti perbudakan, saat pengucapan janjinya sebagai presiden ke-44. First lady, Michelle Obama, memegang Alkitab dan Presiden Obama meletakkan tangan kirinya di atas Alkitab dan tangan kanannya di angkat (tanda kesiapan mengucapkan janji). Ini kali pertama Alkitab itu digunakan sesudah Lincoln menggunakannya saat pelantikannya. Karena bentuknya yang sudah semakin rapuh, maka Library of Congress yang memegang Alkitab ini meminta agar Alkitab tersebut dimasukkan dalam kotak khusus yang tidak akan terganggu oleh sinar ataupun udara dan tidak boleh dibuka. Karena itulah Michelle memegang Alkitab yang tetap tertutup dengan cover khusus.
Makna penting dari simbol ini adalah keputusan Obama untuk mengklaim kembali makna sejarah perbudakan dan penghapusannya yang dinyatakan oleh Abraham Lincoln. Di sini kelihatan bahwa Obama meletakkan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai presiden di atas kesadaran historis yang mendalam. Alkitab menjadi simbol kontinuitas dari sejarah itu, tetapi juga menjadi tanda pengakuan bahwa Allah hadir di dalam kelam dan cerahnya sejarah bangsa Amerika. Di sini makna kalimat penutupnya, yang cenderung menjadi basa-basi politik, "God bless America" menemukan makna yang berbeda! Tidak lagi basa-basi!
Kedua, pidato Obama. Teks lengkapnya mungkin sudah bisa didownload. Dua tema penting menjadi nafas pidato Obama: pelayanan (service) dan tanggung jawab (responsibility). Kelihatannya kedua hal ini sederhana, tetapi ketika ditempatkan dalam keseluruhan pesan, visi, dan refleksi dalam pidato tersebut tampak bahwa Obama ingin mengklaim nilai-nilai luhur dari bangsa Amerika yang memampukan bangsa ini untuk mengembangkan etos hidup yang melayani dengan penuh tanggung jawab. Pidato yang sangat memikat. Orator yang luar biasa; pribadi yang hangat dan rendah hati, suami dan ayah yang penyayang, pemimpin yang visioner, laki-laki kidal, laki-laki yang memahami dan sudah mengalami beratnya hidup dan perjuangan, tetapi, dengan kreativitas dan intelektualitasnya, mengatakan "kita bisa!". Laki-laki yang berani dan teguh berharap akan sesuatu yang lebih baik dan berjuang untuk mewujudkannya. The right person to lead in the right time! Congrats Mr. President!
Saya tertarik pada prosesi ritual pelantikan Obama.
Dua hal menarik dari ritual ini adalah
Pertama, the power of symbolism
Alkitab dan Sejarah. Presiden Obama memilih menggunakan Alkitab milik Presiden Abraham Lincoln, yang menandatangani deklarasi anti perbudakan, saat pengucapan janjinya sebagai presiden ke-44. First lady, Michelle Obama, memegang Alkitab dan Presiden Obama meletakkan tangan kirinya di atas Alkitab dan tangan kanannya di angkat (tanda kesiapan mengucapkan janji). Ini kali pertama Alkitab itu digunakan sesudah Lincoln menggunakannya saat pelantikannya. Karena bentuknya yang sudah semakin rapuh, maka Library of Congress yang memegang Alkitab ini meminta agar Alkitab tersebut dimasukkan dalam kotak khusus yang tidak akan terganggu oleh sinar ataupun udara dan tidak boleh dibuka. Karena itulah Michelle memegang Alkitab yang tetap tertutup dengan cover khusus.
Makna penting dari simbol ini adalah keputusan Obama untuk mengklaim kembali makna sejarah perbudakan dan penghapusannya yang dinyatakan oleh Abraham Lincoln. Di sini kelihatan bahwa Obama meletakkan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai presiden di atas kesadaran historis yang mendalam. Alkitab menjadi simbol kontinuitas dari sejarah itu, tetapi juga menjadi tanda pengakuan bahwa Allah hadir di dalam kelam dan cerahnya sejarah bangsa Amerika. Di sini makna kalimat penutupnya, yang cenderung menjadi basa-basi politik, "God bless America" menemukan makna yang berbeda! Tidak lagi basa-basi!
Kedua, pidato Obama. Teks lengkapnya mungkin sudah bisa didownload. Dua tema penting menjadi nafas pidato Obama: pelayanan (service) dan tanggung jawab (responsibility). Kelihatannya kedua hal ini sederhana, tetapi ketika ditempatkan dalam keseluruhan pesan, visi, dan refleksi dalam pidato tersebut tampak bahwa Obama ingin mengklaim nilai-nilai luhur dari bangsa Amerika yang memampukan bangsa ini untuk mengembangkan etos hidup yang melayani dengan penuh tanggung jawab. Pidato yang sangat memikat. Orator yang luar biasa; pribadi yang hangat dan rendah hati, suami dan ayah yang penyayang, pemimpin yang visioner, laki-laki kidal, laki-laki yang memahami dan sudah mengalami beratnya hidup dan perjuangan, tetapi, dengan kreativitas dan intelektualitasnya, mengatakan "kita bisa!". Laki-laki yang berani dan teguh berharap akan sesuatu yang lebih baik dan berjuang untuk mewujudkannya. The right person to lead in the right time! Congrats Mr. President!
Obama's Inauguration Day, Jan 20, 2009 (9.04am)
Hari ini semuanya menjadi tidak biasa. Hari ini, Selasa 20 Januari 2009, negri ini, Amerika Serikat menyaksikan harapan yang kembali hidup.
Saya mencoba memaknakan hari ini dari kamar saya di Boston, sekitar 8-10 jam naik bis ke Washington, D.C. di mana pusat harapan itu sedang dirayakan. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini saya khususkan untuk hari bersejarah bukan hanya untuk bangsa ini tetapi juga untuk begitu banyak negri lain di seluruh dunia.
Hari ini saya tidak menyentuh bacaan wajib saya sebagai mahasiswi yang sedang menulis disertasi. Hari ini saya khususkan untuk menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan kemudian refleksikan dalam blog ini.
Stasiun TV ABC, stasiun favorit saya, menyiarkan acara pelantikan Obama langsung dari D.C. sejak jam 7 pagi. Saat saya menulis, Barack dan Michelle Obama sedang mengikuti ibadah pagi khusus di St. John Episcopal Church, sekitar 2 blok berjalan dari White House. Demi keamanan, the Obamas naik the first limo. Yang menarik dari ibadah ini adalah the sense of ecumenicity. Gereja ini adalah gereja episkopal, tetapi khusus untuk hari ini President (elect ... beberapa jam lagi sebelum Obama diambil sumpah) Obama mengundang Bishop T.D. Jakes, uskup mega church dari Dallas (gereja 'maha besar' yang beranggotakan sekitar 30.000) untuk berkhotbah. Yang hadir dalam ibadah (tentu saja), e.l. Joe dan Dr. Jill Biden, yang nota bene adalah penganut ajaran Katolik. Diperkirakan ibadah akan berlangsung selama 1 jam. Jadi bisa dibayangkan liturgi ala Episcopal dengan pengkhotbah dari mega church, president dengan latar belakang Baptist dan wapres yang Catholic.
Ibadah ini bersifat privat jadi media tidak diijinkan meliputnya. So, saya cuma bisa mencatat dari apa yang diperlihatkan media.
Sedikit tentang gereja St. John. Gereja ini seperti gereja biasa dengan seluruh aktifitas ibadah dan programnya. Tetapi gereja ini juga dikenal sebagai President Church, karena beberapa presiden sebelum Obama rutin bergereja di sini. Tetapi dalam berita dikatakan keluarga President Obama masih akan meluangkan waktu untuk beribadah di beberapa tempat untuk kemudian menentukan di mana mereka akan secara rutin beribadah. Salah satu alasan hal ini dilakukan karena kedua anak mereka, Melia dan Sasha, yang diharapkan bisa secara aktif terlibat dalam program kegiatan gereja, mungkin salah satunya adalah kegiatan sekolah minggu.
Untuk saat ini, pemikiran yang muncul adalah: aspek keluarga menjadi penting dan nyata dalam kehidupan first family ini.
Sekian dulu catatan pertama ini. Beberapa saat lagi akan saya lanjutkan
Saya mencoba memaknakan hari ini dari kamar saya di Boston, sekitar 8-10 jam naik bis ke Washington, D.C. di mana pusat harapan itu sedang dirayakan. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini saya khususkan untuk hari bersejarah bukan hanya untuk bangsa ini tetapi juga untuk begitu banyak negri lain di seluruh dunia.
Hari ini saya tidak menyentuh bacaan wajib saya sebagai mahasiswi yang sedang menulis disertasi. Hari ini saya khususkan untuk menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan kemudian refleksikan dalam blog ini.
Stasiun TV ABC, stasiun favorit saya, menyiarkan acara pelantikan Obama langsung dari D.C. sejak jam 7 pagi. Saat saya menulis, Barack dan Michelle Obama sedang mengikuti ibadah pagi khusus di St. John Episcopal Church, sekitar 2 blok berjalan dari White House. Demi keamanan, the Obamas naik the first limo. Yang menarik dari ibadah ini adalah the sense of ecumenicity. Gereja ini adalah gereja episkopal, tetapi khusus untuk hari ini President (elect ... beberapa jam lagi sebelum Obama diambil sumpah) Obama mengundang Bishop T.D. Jakes, uskup mega church dari Dallas (gereja 'maha besar' yang beranggotakan sekitar 30.000) untuk berkhotbah. Yang hadir dalam ibadah (tentu saja), e.l. Joe dan Dr. Jill Biden, yang nota bene adalah penganut ajaran Katolik. Diperkirakan ibadah akan berlangsung selama 1 jam. Jadi bisa dibayangkan liturgi ala Episcopal dengan pengkhotbah dari mega church, president dengan latar belakang Baptist dan wapres yang Catholic.
Ibadah ini bersifat privat jadi media tidak diijinkan meliputnya. So, saya cuma bisa mencatat dari apa yang diperlihatkan media.
Sedikit tentang gereja St. John. Gereja ini seperti gereja biasa dengan seluruh aktifitas ibadah dan programnya. Tetapi gereja ini juga dikenal sebagai President Church, karena beberapa presiden sebelum Obama rutin bergereja di sini. Tetapi dalam berita dikatakan keluarga President Obama masih akan meluangkan waktu untuk beribadah di beberapa tempat untuk kemudian menentukan di mana mereka akan secara rutin beribadah. Salah satu alasan hal ini dilakukan karena kedua anak mereka, Melia dan Sasha, yang diharapkan bisa secara aktif terlibat dalam program kegiatan gereja, mungkin salah satunya adalah kegiatan sekolah minggu.
Untuk saat ini, pemikiran yang muncul adalah: aspek keluarga menjadi penting dan nyata dalam kehidupan first family ini.
Sekian dulu catatan pertama ini. Beberapa saat lagi akan saya lanjutkan
Sunday, January 11, 2009
Kartu Kredit
Kali pertama saya punya kartu kredit saat baru mulai mengajar di STT Jakarta kira-kira 9 tahun lalu. Itu juga hasil 'ikutan' dari kartu milik kakak. Itu juga kali pertama saya merasa sedikit 'bangga' entah kenapa ... mungkin karena bisa 'menggesek' kartu setiap kali belanja. Untungnya saya orang yang bisa disiplin dengan uang saat itu mungkin karena tahu jatah saya di bawah Rp. 1 juta sebulan ... yah namanya juga 'ikutan'. Untuk saya saat itu punya kartu kredit sudah luar biasa! Entah kenapa luar biasa! Pokoknya tak terselami! Tapi ada perasaan yang selalu mengganggu karena setiap kali menggesek kartu itu seperti ada bunyi "utang ni ye!"
Karena itu sempat ada masa ketika berbelanja tanpa menggesek kartu itu lebih menenangkan hati. Baru kemudian ketika saya kuliah di Boston, kebutuhan kartu kredit itu muncul lagi. Tahun-tahun pertama saya lewati tanpa kartu kredit. Toh semuanya bisa dibayar dengan cash. Toh saya tidak perlu credit history yang baik saat saya mau meminjam dana dari Bank untuk cicilan rumah, atau mobil, atau uang kuliah. Semua itu tidak saya butuhkan. Saya toh international student. Lalu kenapa juga saya perlu kartu kredit? Demikian argumentasi saya selama 2,5 tahun pertama di Boston. Tetapi kemudian saya memutuskan untuk mengunjungi kakak saya yang waktu itu sedang studi S3 di Australia. Nah, saya tidak mungkin membawa cash ke mana-mana. Setelah ditimbang-timbang akhirnya saya memutuskan untuk meng-apply kartu kredit dari bank yang sama. Yang anehnya, di sana saya juga hampir tidak pernah menggunakan kartu kredit itu sehingga dalam waktu lama kartu itu masih saja mengkilap ... Singkat cerita, sejak saat itu kartu kredit itu selalu mengisi deretan kantong kecil yang sudah dijejali kartu asuransi, perpustakaan, kartu diskon, kartu ATM, dan kartu-kartu lainnya di dompetku.
Lalu suatu hari saya melihat ada tawaran kartu kredit yang lebih menggiurkan untuk mahasiswi seperti saya. Tidak ada pungutan biaya tahunan dan, ini yang paling penting, bunganya rendah dan, ini yang lebih penting lagi, setiap kali mengumpulkan sejumlah poin tertentu saya otomatis mendapat $25 kupon yang bisa digunakan untuk belanja di site yang bersangkutan. Tetapi setelah sekian lama berpikir-pikir dan menimbang-nimbang apa alasan sehingga saya 'harus' mempunyai 2 kartu kredit, saya toh mengirim aplikasi untuk kartu kedua itu. Dan hanya dalam waktu beberapa minggu kartu itu sudah nangkring di kotak surat tempat tinggal saya.
Saya pun kemudian menjadi terbiasa menggunakan 2 kartu kredit. 1 putih perak ada merahnya sedikit, logo dari si Bank peminjam kredit, dan 1 hitam kecil ada warna emasnya sedikit, logo dari Bank lain yang meminjamkan kredit itu. Tetapi tidak terlalu lama sesudah itu 'suara-suara' itu makin bising di telinga saya 'hutang ni ye ... nambah hutang ni ye!" Dan begitu terus. Akhirnya, mungkin karena telinga saya makin sakit mendengar suara itu, saya memilih lebih realistis dan mengambil keputusan untuk cuma memiliki 1 kartu. Pilihan saya, tentu yang paling 'menguntungkan' untuk saya. Saya pilih si kartu hitam-emas. Mungkin juga karena warnanya lebih menarik!
Toh ketika cuma 1 kartu hitam-emas itulah yang sering saya pakai, suara itu tak kunjung hilang. Setiap kali saya melakukan transaksi gesek atau 'online' suara itu 'terdengar' lagi 'utang ni ye!'
Dan suara itu makin keras saat ini ... ternyata bukan cuma saya yang dengar dan bukan cuma orang-orang di Boston yang dengar ... tapi masyarakat Amerika semuanya mendengar!
Astaga! Keras sekali! Dan saya seperti baru bangun dari mimpi ... selama ini saya hidup di tengah-tengah masyarakat yang hidupnya berkubang dalam hutang, yang etos kerjanya dibangun di atas pembenaran akan hutang, dan yang orientasi hidupnya diarahkan pada gaya hidup berhutang!
Susah dimengerti, bahkan susah dibayangkan bahwa rata-rata warga masyarakat Amerika memiliki minimal 20 kartu kredit. Bahkan ada 1 orang yang punya kartu kredit sampai 35 buah, dan sekarang dia berhutang sekitar $80.000, belum lagi utang cicilan rumah, mobil, dll. Dan pekerjaan orang itu adalah akuntan ... yang seharusnya tahu bagaimana mengelola keuangannya. Astaga! Lalu, kalau saya yang cuma punya 1 kartu kredit bisa tidak tidur nyenyak kalau belum melunasi cicilan dari kredit bulan lalu, bagaimana pula dengan orang-orang yang tahu persis bahwa mereka harus menjalani 50 tahun hidupnya untuk bisa melunasi semua hutang kartu kredit mereka?
Sekarang negeri kartu kredit ini sedang limbung. Setiap hari Televisi menyiarkan PHK di mana-mana, outlet ditutup, usaha-usaha raksasa ditutup yang menggulirkan gulungan batu es yang setiap waktu melindas orang-orang kecil di bawahnya. Bank semakin selektif bahkan sebagian besar tidak lagi memberikan pinjaman sehingga semakin banyak bisnis kecil yang hidupnya bergantung pada pinjaman bank terpaksa tutup. Banyak keluarga yang perlahan-lahan melihat rumah mereka yang belum lunas cicilannya, dan entah bagaimana bisa dilunasi, di'buang' ke pasar lelang, universitas publik mulai diminati karena uang kuliah yang tidak terlalu tinggi dibandingkan universitas privat, mal-mal mulai sepi, restoran kecil maupun besar ditantang semakin kreatif supaya masih ada yang mau 'menghabiskan' uang mereka di sana. Bahkan universitas-universitas besar dan kaya di Massachusetts seperti Harvard semakin hati-hati 'membelanjakan' dana mereka. Mereka kehilangan banyak dana investasi ketika Wall street gonjang-ganjing pertengahan sampai akhir tahun 2008 dan tetap belum stabil sampai saat saya menulis catatan ini.
Negeri kartu kredit ini sedang gonjang-ganjing ... dan presiden yang mereka pilih, Obama, kelihatannya sudah mulai bertambah ubannya, bahkan ketika hari inagurasinya masih 9 hari lagi. Kasian Obama harus membereskan milyaran $ hutang di negrinya ini yang membelit, belum lagi kalau Obama sendiri masih punya hutang kartu kredit, dan apakah dia akan sempat mengurusi hutang-hutangnya itu.
Negeri ini memang sedang berubah ... entah ke arah yang baik atau ke arah sebaliknya ...
Tapi ada satu yang tidak berubah di negri ini ... pandangan bahwa 'berhutang' adalah 'way of life'. Anda harus punya sejarah hutang, a.l. dengan membelanjakan kartu kredit Anda, walaupun Anda tahu persis di tabungan Anda sudah tidak ada uang lagi untuk melunasi hutang itu. Anda harus punya hutang, karena dengan sejarah hutang itulah Anda diukur layak atau tidak untuk memiliki rumah, mobil, dll. Tentu saja good credit history guarantees the possibility to get loan!
Tapi koq sekarang jadi begini? Ternyata benar 'suara' yang selalu terdengar setiap kali saya membelanjakan kartu saya 'hutang lagi ni ye!' Suara itu 'mengejek' saya ... dan karena itu saya selalu 'terejek' untuk melunasi kartu saya yang cuma semata-wayang. Saya mungkin termasuk di antara banyak orang di negri ini yang 'terselamatkan' karena tidak punya hutang bejibun atas pembayaran kartu kredit. Tapi saya pun termasuk dalam kelompok yang kelimpungan itu karena saya masih harus melunasi cicilan pembayaran bulan lalu dalam minggu ini. Bedanya saya optimis, karena dari hasil kerja saya tahun lalu, saya yakin akan bisa melunasi hutang itu. Lalu apa yang membuat saya menunggu untuk melunasinya? Saya menunggu tanggal yang tepat. Karena walaupun awam, saya belajar cara yang tepat untuk melakukan transaksi beli dan bayar kartu kredit saya supaya credit history saya bagus. Tapi kan saya tidak perlu history seperti itu? Entahlah. Yang penting kan dilunasi.
Lalu, pilihan yang tepat yang mana? Apakah punya kartu kredit dan melunasi cicilan on time dan beyond credit limit atau tidak punya kartu kredit sama sekali. Semuanya tentu tergantung pada si pemilik dana.
Untuk saya, yang paling cocok adalah punya 1 kartu kredit. Alasan saya ada tiga: pertama, supaya saya bisa mendeteksi sifat konsumtif saya [dan belajar menguranginya], kedua, supaya saya bisa mengumpulkan point $25 untuk saya belanjakan buku, dll gratis di amazon.com, dan ketiga, supaya saya tidak perlu membawa cash kemana-mana dan menggunakan kartu ATM online saat tingkat kejahatan terhadap dana tabungan di bank semakin meninggi.
Untuk saya, 1 kartu kredit dengan limit yang tidak besar, yang cocok untuk ukuran saya sebagai international student di Boston, sudah CUKUP! Persoalannya adalah, tidak semua orang memiliki standar yang sama atas apa yang "CUKUP" itu. Dan, kartu kredit menjadi analogi untuk kita semua bahwa tidak mudah mengatakan "CUKUP!" apalagi memberlakukannya! Dan inilah awal krisis di negeri kartu kredit ini ketika kata "CUKUP" hilang dari kamus hidup sehari-hari dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas dalam struktur sosial dan ekonomi serta politik negeri ini. Dan, saya berada di sini sekarang, masih belum "CUKUP" waktu saya untuk meninggalkan negeri ini!
Karena itu sempat ada masa ketika berbelanja tanpa menggesek kartu itu lebih menenangkan hati. Baru kemudian ketika saya kuliah di Boston, kebutuhan kartu kredit itu muncul lagi. Tahun-tahun pertama saya lewati tanpa kartu kredit. Toh semuanya bisa dibayar dengan cash. Toh saya tidak perlu credit history yang baik saat saya mau meminjam dana dari Bank untuk cicilan rumah, atau mobil, atau uang kuliah. Semua itu tidak saya butuhkan. Saya toh international student. Lalu kenapa juga saya perlu kartu kredit? Demikian argumentasi saya selama 2,5 tahun pertama di Boston. Tetapi kemudian saya memutuskan untuk mengunjungi kakak saya yang waktu itu sedang studi S3 di Australia. Nah, saya tidak mungkin membawa cash ke mana-mana. Setelah ditimbang-timbang akhirnya saya memutuskan untuk meng-apply kartu kredit dari bank yang sama. Yang anehnya, di sana saya juga hampir tidak pernah menggunakan kartu kredit itu sehingga dalam waktu lama kartu itu masih saja mengkilap ... Singkat cerita, sejak saat itu kartu kredit itu selalu mengisi deretan kantong kecil yang sudah dijejali kartu asuransi, perpustakaan, kartu diskon, kartu ATM, dan kartu-kartu lainnya di dompetku.
Lalu suatu hari saya melihat ada tawaran kartu kredit yang lebih menggiurkan untuk mahasiswi seperti saya. Tidak ada pungutan biaya tahunan dan, ini yang paling penting, bunganya rendah dan, ini yang lebih penting lagi, setiap kali mengumpulkan sejumlah poin tertentu saya otomatis mendapat $25 kupon yang bisa digunakan untuk belanja di site yang bersangkutan. Tetapi setelah sekian lama berpikir-pikir dan menimbang-nimbang apa alasan sehingga saya 'harus' mempunyai 2 kartu kredit, saya toh mengirim aplikasi untuk kartu kedua itu. Dan hanya dalam waktu beberapa minggu kartu itu sudah nangkring di kotak surat tempat tinggal saya.
Saya pun kemudian menjadi terbiasa menggunakan 2 kartu kredit. 1 putih perak ada merahnya sedikit, logo dari si Bank peminjam kredit, dan 1 hitam kecil ada warna emasnya sedikit, logo dari Bank lain yang meminjamkan kredit itu. Tetapi tidak terlalu lama sesudah itu 'suara-suara' itu makin bising di telinga saya 'hutang ni ye ... nambah hutang ni ye!" Dan begitu terus. Akhirnya, mungkin karena telinga saya makin sakit mendengar suara itu, saya memilih lebih realistis dan mengambil keputusan untuk cuma memiliki 1 kartu. Pilihan saya, tentu yang paling 'menguntungkan' untuk saya. Saya pilih si kartu hitam-emas. Mungkin juga karena warnanya lebih menarik!
Toh ketika cuma 1 kartu hitam-emas itulah yang sering saya pakai, suara itu tak kunjung hilang. Setiap kali saya melakukan transaksi gesek atau 'online' suara itu 'terdengar' lagi 'utang ni ye!'
Dan suara itu makin keras saat ini ... ternyata bukan cuma saya yang dengar dan bukan cuma orang-orang di Boston yang dengar ... tapi masyarakat Amerika semuanya mendengar!
Astaga! Keras sekali! Dan saya seperti baru bangun dari mimpi ... selama ini saya hidup di tengah-tengah masyarakat yang hidupnya berkubang dalam hutang, yang etos kerjanya dibangun di atas pembenaran akan hutang, dan yang orientasi hidupnya diarahkan pada gaya hidup berhutang!
Susah dimengerti, bahkan susah dibayangkan bahwa rata-rata warga masyarakat Amerika memiliki minimal 20 kartu kredit. Bahkan ada 1 orang yang punya kartu kredit sampai 35 buah, dan sekarang dia berhutang sekitar $80.000, belum lagi utang cicilan rumah, mobil, dll. Dan pekerjaan orang itu adalah akuntan ... yang seharusnya tahu bagaimana mengelola keuangannya. Astaga! Lalu, kalau saya yang cuma punya 1 kartu kredit bisa tidak tidur nyenyak kalau belum melunasi cicilan dari kredit bulan lalu, bagaimana pula dengan orang-orang yang tahu persis bahwa mereka harus menjalani 50 tahun hidupnya untuk bisa melunasi semua hutang kartu kredit mereka?
Sekarang negeri kartu kredit ini sedang limbung. Setiap hari Televisi menyiarkan PHK di mana-mana, outlet ditutup, usaha-usaha raksasa ditutup yang menggulirkan gulungan batu es yang setiap waktu melindas orang-orang kecil di bawahnya. Bank semakin selektif bahkan sebagian besar tidak lagi memberikan pinjaman sehingga semakin banyak bisnis kecil yang hidupnya bergantung pada pinjaman bank terpaksa tutup. Banyak keluarga yang perlahan-lahan melihat rumah mereka yang belum lunas cicilannya, dan entah bagaimana bisa dilunasi, di'buang' ke pasar lelang, universitas publik mulai diminati karena uang kuliah yang tidak terlalu tinggi dibandingkan universitas privat, mal-mal mulai sepi, restoran kecil maupun besar ditantang semakin kreatif supaya masih ada yang mau 'menghabiskan' uang mereka di sana. Bahkan universitas-universitas besar dan kaya di Massachusetts seperti Harvard semakin hati-hati 'membelanjakan' dana mereka. Mereka kehilangan banyak dana investasi ketika Wall street gonjang-ganjing pertengahan sampai akhir tahun 2008 dan tetap belum stabil sampai saat saya menulis catatan ini.
Negeri kartu kredit ini sedang gonjang-ganjing ... dan presiden yang mereka pilih, Obama, kelihatannya sudah mulai bertambah ubannya, bahkan ketika hari inagurasinya masih 9 hari lagi. Kasian Obama harus membereskan milyaran $ hutang di negrinya ini yang membelit, belum lagi kalau Obama sendiri masih punya hutang kartu kredit, dan apakah dia akan sempat mengurusi hutang-hutangnya itu.
Negeri ini memang sedang berubah ... entah ke arah yang baik atau ke arah sebaliknya ...
Tapi ada satu yang tidak berubah di negri ini ... pandangan bahwa 'berhutang' adalah 'way of life'. Anda harus punya sejarah hutang, a.l. dengan membelanjakan kartu kredit Anda, walaupun Anda tahu persis di tabungan Anda sudah tidak ada uang lagi untuk melunasi hutang itu. Anda harus punya hutang, karena dengan sejarah hutang itulah Anda diukur layak atau tidak untuk memiliki rumah, mobil, dll. Tentu saja good credit history guarantees the possibility to get loan!
Tapi koq sekarang jadi begini? Ternyata benar 'suara' yang selalu terdengar setiap kali saya membelanjakan kartu saya 'hutang lagi ni ye!' Suara itu 'mengejek' saya ... dan karena itu saya selalu 'terejek' untuk melunasi kartu saya yang cuma semata-wayang. Saya mungkin termasuk di antara banyak orang di negri ini yang 'terselamatkan' karena tidak punya hutang bejibun atas pembayaran kartu kredit. Tapi saya pun termasuk dalam kelompok yang kelimpungan itu karena saya masih harus melunasi cicilan pembayaran bulan lalu dalam minggu ini. Bedanya saya optimis, karena dari hasil kerja saya tahun lalu, saya yakin akan bisa melunasi hutang itu. Lalu apa yang membuat saya menunggu untuk melunasinya? Saya menunggu tanggal yang tepat. Karena walaupun awam, saya belajar cara yang tepat untuk melakukan transaksi beli dan bayar kartu kredit saya supaya credit history saya bagus. Tapi kan saya tidak perlu history seperti itu? Entahlah. Yang penting kan dilunasi.
Lalu, pilihan yang tepat yang mana? Apakah punya kartu kredit dan melunasi cicilan on time dan beyond credit limit atau tidak punya kartu kredit sama sekali. Semuanya tentu tergantung pada si pemilik dana.
Untuk saya, yang paling cocok adalah punya 1 kartu kredit. Alasan saya ada tiga: pertama, supaya saya bisa mendeteksi sifat konsumtif saya [dan belajar menguranginya], kedua, supaya saya bisa mengumpulkan point $25 untuk saya belanjakan buku, dll gratis di amazon.com, dan ketiga, supaya saya tidak perlu membawa cash kemana-mana dan menggunakan kartu ATM online saat tingkat kejahatan terhadap dana tabungan di bank semakin meninggi.
Untuk saya, 1 kartu kredit dengan limit yang tidak besar, yang cocok untuk ukuran saya sebagai international student di Boston, sudah CUKUP! Persoalannya adalah, tidak semua orang memiliki standar yang sama atas apa yang "CUKUP" itu. Dan, kartu kredit menjadi analogi untuk kita semua bahwa tidak mudah mengatakan "CUKUP!" apalagi memberlakukannya! Dan inilah awal krisis di negeri kartu kredit ini ketika kata "CUKUP" hilang dari kamus hidup sehari-hari dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas dalam struktur sosial dan ekonomi serta politik negeri ini. Dan, saya berada di sini sekarang, masih belum "CUKUP" waktu saya untuk meninggalkan negeri ini!
Keriput!
Yesus mungkin tidak pernah memikirkan apalagi mengalami masalah keriput! Dua hal jelas menghindarkannya dari masalah ini, pertama, Beliau mati muda (33 tahun) jadi kemungkinan besar persoalan keriput belum sempat menghantui-Nya. Kedua, Beliau seorang laki-laki, dan menurut data terkini (tentu saja tidak bisa langsung diaplikasikan pada masa hidup Beliau) keriput itu lebih menjadi persoalan perempuan. Alasan kedua ini mungkin agak berpersoalan dari segi jender. Kalau memang keriput masalah perempuan, lalu siapa yang memunculkan masalah itu? Kelihatannya bukan perempuan [semata]. Setidaknya karena dua alasan: pertama, kalau kita mengamini pameo terkenal 'beauty is in the eyes of the beholder!", maka keriput menjadi persoalan bagi sang "beholder" yang tidak kuat melihat garis-garis carut-marut di wajah perempuan. Sang 'beholder' bisa jadi perempuan, dan tentu saja laki-laki! Penolakan terhadap deretan waktu [kronos] yang semakin hari semakin jelas [seperti sebuah epifani] di wajah perempuan menjadi semacam 'ejekan' terhadap sang 'beholder' bahwa kelak dia [perempuan maupun laki-laki] akan menjadi 'sasaran empuk' sang kronos. Di sinilah keriput menjadi persoalan baik bagi si pemilik wajah maupun si 'penikmat' karena keriput tidak bisa dihilangkan. Bagi si pemilik, segala upaya akan dilakukan mulai dari 'krim malam,' 'botox,' sampai 'operasi plastik' [yang seringkali melumpuhkan syaraf senyum ... sehingga si pemilik wajah jadi kehilangan kemampuan mengekspresikan perasaan pada wajahnya ..hmmm]. Yang paling menderita tentu pemilik wajah, karena wajah itu melekat pada dirinya. Sementara bagi sang 'beholder" gampang sekali! Dia tinggal memalingkan mukanya dari wajah tanpa ekspresi itu, maka selesailah semuanya. Di sinilah muncul persoalan kedua, yaitu keriput ternyata adalah hasil sebuah negosiasi budaya antara sang 'beholder' dan si pemilik. Dan dalam masyarakat global yang kosmetis [semoga kata ini ada artinya] seperti saat ini, maka negosiasi selalu dimenangkan, karena itu ia tidak pernah sungguh-sungguh sebuah negosiasi, oleh sang 'beholder'. Untungnya [ini khas orang Indonesia selalu berusaha merasa ber'untung'], kita masih punya pilihan: apakah kita mau sekedar menjadi pemilik atau sekaligus menjadi 'beholder'?
Kalau boleh, mending kita berusaha menjadi keduanya. Apalagi kalau kita perempuan. Sesekali kita perlu merawat wajah kita, tetapi bukan untuk kepentingan para 'beholder[s]' di luar sana. Kita merawat wajah dan tubuh kita, karena kita juga 'pelihat' dan 'penikmat' wajah kita. Kalau kemudian orang lain bilang kita 'narsis' ... so what, gitu loh!
Btw, back to Jesus ... keriput kelihatannya tidak menjadi masalah untuk-Nya. Tapi bisa kita bayangkan berapa banyak garis-garis itu di wajah-Nya ketika menghadapi ulah murid-murid-Nya yang keras kepala, ketika Beliau tersenyum sambil menenangkan bunda-Nya yang panik karena anggur habis dalam sebuah pesta pernikahan, atau ketika Beliau mendapati para murid-Nya bertengkar soal posisi tertinggi? Hmmm... keriput bagi-Nya bukan persoalan, tapi tampaknya keriput adalah tanda bahwa Beliau sungguh seseorang seperti kita yang hidupnya tak lekang dari garis-garis kronos ... sayang Dia mati muda... kalau tidak kita bisa belajar banyak dari-Nya untuk tidak takut sama keriput ... sehingga kita tidak perlu memperkaya para produsen botox, dll.
Kalau boleh, mending kita berusaha menjadi keduanya. Apalagi kalau kita perempuan. Sesekali kita perlu merawat wajah kita, tetapi bukan untuk kepentingan para 'beholder[s]' di luar sana. Kita merawat wajah dan tubuh kita, karena kita juga 'pelihat' dan 'penikmat' wajah kita. Kalau kemudian orang lain bilang kita 'narsis' ... so what, gitu loh!
Btw, back to Jesus ... keriput kelihatannya tidak menjadi masalah untuk-Nya. Tapi bisa kita bayangkan berapa banyak garis-garis itu di wajah-Nya ketika menghadapi ulah murid-murid-Nya yang keras kepala, ketika Beliau tersenyum sambil menenangkan bunda-Nya yang panik karena anggur habis dalam sebuah pesta pernikahan, atau ketika Beliau mendapati para murid-Nya bertengkar soal posisi tertinggi? Hmmm... keriput bagi-Nya bukan persoalan, tapi tampaknya keriput adalah tanda bahwa Beliau sungguh seseorang seperti kita yang hidupnya tak lekang dari garis-garis kronos ... sayang Dia mati muda... kalau tidak kita bisa belajar banyak dari-Nya untuk tidak takut sama keriput ... sehingga kita tidak perlu memperkaya para produsen botox, dll.
Mulai nulis lagi ...
Hari ini di tengah rasa bosan, mungkin bosan karena otak-ku tak kunjung bisa mikir seperti yang kuinginkan kujenguk blog-ku yang sdh beberapa bulan tak tersentuh ... kasian dia ... seperti tempat sampah 'akademis' yang ditumpukin tulisan-tulisan masa laluku ... entah untuk mengenang, memuja, atau sekedar menjadi tambahan memori untuk otak-ku ...
Bosan itu seringkali datang ... tapi seringkali juga dia tak terperikan untuk dibicarakan apalagi didiskusikan ... tetapi ketika rasa itu datang di tengah-tengah tuntutan untuk menghasilkan sesuatu yang berharga, maka sering ia diselipi 'sedikit' rasa kesel dan kadang-kadang malah dihinggapi 'sedikit' rasa marah. Koq saya tidak produktif?! Yang susah kalau yang 'sedikit' itu kemudian 'membukit' ... Koq saya jadi begini?!
Tetapi hari ini saya belajar untuk menerima kalau bosan itu sesuatu yang biasa ... dan karenanya tidak usah terlalu disikapi berlebihan ... toh pada akhirnya rasa bosan itu akan berlalu ... yang penting ... sumber ke'bosan'an itu diketahui ... untuk-ku kali ini sumbernya adalah flu yang berkepanjangan yang membuatku harus minum obat ... obat-obatan itu memaksaku untuk tidur ... padahal dalam mimpi pun saya masih melihat diriku duduk di depan komputer ... entah ngapain... tp dari ke'sipit'an mataku yang berusaha melawan kantuk saya melihat wajah teman-temanku di FB ... nah ... saya tidur mimpi atau mimpi tidur???
Bosan itu seringkali datang ... tapi seringkali juga dia tak terperikan untuk dibicarakan apalagi didiskusikan ... tetapi ketika rasa itu datang di tengah-tengah tuntutan untuk menghasilkan sesuatu yang berharga, maka sering ia diselipi 'sedikit' rasa kesel dan kadang-kadang malah dihinggapi 'sedikit' rasa marah. Koq saya tidak produktif?! Yang susah kalau yang 'sedikit' itu kemudian 'membukit' ... Koq saya jadi begini?!
Tetapi hari ini saya belajar untuk menerima kalau bosan itu sesuatu yang biasa ... dan karenanya tidak usah terlalu disikapi berlebihan ... toh pada akhirnya rasa bosan itu akan berlalu ... yang penting ... sumber ke'bosan'an itu diketahui ... untuk-ku kali ini sumbernya adalah flu yang berkepanjangan yang membuatku harus minum obat ... obat-obatan itu memaksaku untuk tidur ... padahal dalam mimpi pun saya masih melihat diriku duduk di depan komputer ... entah ngapain... tp dari ke'sipit'an mataku yang berusaha melawan kantuk saya melihat wajah teman-temanku di FB ... nah ... saya tidur mimpi atau mimpi tidur???
Subscribe to:
Posts (Atom)
