Yesus mungkin tidak pernah memikirkan apalagi mengalami masalah keriput! Dua hal jelas menghindarkannya dari masalah ini, pertama, Beliau mati muda (33 tahun) jadi kemungkinan besar persoalan keriput belum sempat menghantui-Nya. Kedua, Beliau seorang laki-laki, dan menurut data terkini (tentu saja tidak bisa langsung diaplikasikan pada masa hidup Beliau) keriput itu lebih menjadi persoalan perempuan. Alasan kedua ini mungkin agak berpersoalan dari segi jender. Kalau memang keriput masalah perempuan, lalu siapa yang memunculkan masalah itu? Kelihatannya bukan perempuan [semata]. Setidaknya karena dua alasan: pertama, kalau kita mengamini pameo terkenal 'beauty is in the eyes of the beholder!", maka keriput menjadi persoalan bagi sang "beholder" yang tidak kuat melihat garis-garis carut-marut di wajah perempuan. Sang 'beholder' bisa jadi perempuan, dan tentu saja laki-laki! Penolakan terhadap deretan waktu [kronos] yang semakin hari semakin jelas [seperti sebuah epifani] di wajah perempuan menjadi semacam 'ejekan' terhadap sang 'beholder' bahwa kelak dia [perempuan maupun laki-laki] akan menjadi 'sasaran empuk' sang kronos. Di sinilah keriput menjadi persoalan baik bagi si pemilik wajah maupun si 'penikmat' karena keriput tidak bisa dihilangkan. Bagi si pemilik, segala upaya akan dilakukan mulai dari 'krim malam,' 'botox,' sampai 'operasi plastik' [yang seringkali melumpuhkan syaraf senyum ... sehingga si pemilik wajah jadi kehilangan kemampuan mengekspresikan perasaan pada wajahnya ..hmmm]. Yang paling menderita tentu pemilik wajah, karena wajah itu melekat pada dirinya. Sementara bagi sang 'beholder" gampang sekali! Dia tinggal memalingkan mukanya dari wajah tanpa ekspresi itu, maka selesailah semuanya. Di sinilah muncul persoalan kedua, yaitu keriput ternyata adalah hasil sebuah negosiasi budaya antara sang 'beholder' dan si pemilik. Dan dalam masyarakat global yang kosmetis [semoga kata ini ada artinya] seperti saat ini, maka negosiasi selalu dimenangkan, karena itu ia tidak pernah sungguh-sungguh sebuah negosiasi, oleh sang 'beholder'. Untungnya [ini khas orang Indonesia selalu berusaha merasa ber'untung'], kita masih punya pilihan: apakah kita mau sekedar menjadi pemilik atau sekaligus menjadi 'beholder'?
Kalau boleh, mending kita berusaha menjadi keduanya. Apalagi kalau kita perempuan. Sesekali kita perlu merawat wajah kita, tetapi bukan untuk kepentingan para 'beholder[s]' di luar sana. Kita merawat wajah dan tubuh kita, karena kita juga 'pelihat' dan 'penikmat' wajah kita. Kalau kemudian orang lain bilang kita 'narsis' ... so what, gitu loh!
Btw, back to Jesus ... keriput kelihatannya tidak menjadi masalah untuk-Nya. Tapi bisa kita bayangkan berapa banyak garis-garis itu di wajah-Nya ketika menghadapi ulah murid-murid-Nya yang keras kepala, ketika Beliau tersenyum sambil menenangkan bunda-Nya yang panik karena anggur habis dalam sebuah pesta pernikahan, atau ketika Beliau mendapati para murid-Nya bertengkar soal posisi tertinggi? Hmmm... keriput bagi-Nya bukan persoalan, tapi tampaknya keriput adalah tanda bahwa Beliau sungguh seseorang seperti kita yang hidupnya tak lekang dari garis-garis kronos ... sayang Dia mati muda... kalau tidak kita bisa belajar banyak dari-Nya untuk tidak takut sama keriput ... sehingga kita tidak perlu memperkaya para produsen botox, dll.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment