Sunday, January 11, 2009

Kartu Kredit

Kali pertama saya punya kartu kredit saat baru mulai mengajar di STT Jakarta kira-kira 9 tahun lalu. Itu juga hasil 'ikutan' dari kartu milik kakak. Itu juga kali pertama saya merasa sedikit 'bangga' entah kenapa ... mungkin karena bisa 'menggesek' kartu setiap kali belanja. Untungnya saya orang yang bisa disiplin dengan uang saat itu mungkin karena tahu jatah saya di bawah Rp. 1 juta sebulan ... yah namanya juga 'ikutan'. Untuk saya saat itu punya kartu kredit sudah luar biasa! Entah kenapa luar biasa! Pokoknya tak terselami! Tapi ada perasaan yang selalu mengganggu karena setiap kali menggesek kartu itu seperti ada bunyi "utang ni ye!"

Karena itu sempat ada masa ketika berbelanja tanpa menggesek kartu itu lebih menenangkan hati. Baru kemudian ketika saya kuliah di Boston, kebutuhan kartu kredit itu muncul lagi. Tahun-tahun pertama saya lewati tanpa kartu kredit. Toh semuanya bisa dibayar dengan cash. Toh saya tidak perlu credit history yang baik saat saya mau meminjam dana dari Bank untuk cicilan rumah, atau mobil, atau uang kuliah. Semua itu tidak saya butuhkan. Saya toh international student. Lalu kenapa juga saya perlu kartu kredit? Demikian argumentasi saya selama 2,5 tahun pertama di Boston. Tetapi kemudian saya memutuskan untuk mengunjungi kakak saya yang waktu itu sedang studi S3 di Australia. Nah, saya tidak mungkin membawa cash ke mana-mana. Setelah ditimbang-timbang akhirnya saya memutuskan untuk meng-apply kartu kredit dari bank yang sama. Yang anehnya, di sana saya juga hampir tidak pernah menggunakan kartu kredit itu sehingga dalam waktu lama kartu itu masih saja mengkilap ... Singkat cerita, sejak saat itu kartu kredit itu selalu mengisi deretan kantong kecil yang sudah dijejali kartu asuransi, perpustakaan, kartu diskon, kartu ATM, dan kartu-kartu lainnya di dompetku.

Lalu suatu hari saya melihat ada tawaran kartu kredit yang lebih menggiurkan untuk mahasiswi seperti saya. Tidak ada pungutan biaya tahunan dan, ini yang paling penting, bunganya rendah dan, ini yang lebih penting lagi, setiap kali mengumpulkan sejumlah poin tertentu saya otomatis mendapat $25 kupon yang bisa digunakan untuk belanja di site yang bersangkutan. Tetapi setelah sekian lama berpikir-pikir dan menimbang-nimbang apa alasan sehingga saya 'harus' mempunyai 2 kartu kredit, saya toh mengirim aplikasi untuk kartu kedua itu. Dan hanya dalam waktu beberapa minggu kartu itu sudah nangkring di kotak surat tempat tinggal saya.

Saya pun kemudian menjadi terbiasa menggunakan 2 kartu kredit. 1 putih perak ada merahnya sedikit, logo dari si Bank peminjam kredit, dan 1 hitam kecil ada warna emasnya sedikit, logo dari Bank lain yang meminjamkan kredit itu. Tetapi tidak terlalu lama sesudah itu 'suara-suara' itu makin bising di telinga saya 'hutang ni ye ... nambah hutang ni ye!" Dan begitu terus. Akhirnya, mungkin karena telinga saya makin sakit mendengar suara itu, saya memilih lebih realistis dan mengambil keputusan untuk cuma memiliki 1 kartu. Pilihan saya, tentu yang paling 'menguntungkan' untuk saya. Saya pilih si kartu hitam-emas. Mungkin juga karena warnanya lebih menarik!

Toh ketika cuma 1 kartu hitam-emas itulah yang sering saya pakai, suara itu tak kunjung hilang. Setiap kali saya melakukan transaksi gesek atau 'online' suara itu 'terdengar' lagi 'utang ni ye!'

Dan suara itu makin keras saat ini ... ternyata bukan cuma saya yang dengar dan bukan cuma orang-orang di Boston yang dengar ... tapi masyarakat Amerika semuanya mendengar!
Astaga! Keras sekali! Dan saya seperti baru bangun dari mimpi ... selama ini saya hidup di tengah-tengah masyarakat yang hidupnya berkubang dalam hutang, yang etos kerjanya dibangun di atas pembenaran akan hutang, dan yang orientasi hidupnya diarahkan pada gaya hidup berhutang!

Susah dimengerti, bahkan susah dibayangkan bahwa rata-rata warga masyarakat Amerika memiliki minimal 20 kartu kredit. Bahkan ada 1 orang yang punya kartu kredit sampai 35 buah, dan sekarang dia berhutang sekitar $80.000, belum lagi utang cicilan rumah, mobil, dll. Dan pekerjaan orang itu adalah akuntan ... yang seharusnya tahu bagaimana mengelola keuangannya. Astaga! Lalu, kalau saya yang cuma punya 1 kartu kredit bisa tidak tidur nyenyak kalau belum melunasi cicilan dari kredit bulan lalu, bagaimana pula dengan orang-orang yang tahu persis bahwa mereka harus menjalani 50 tahun hidupnya untuk bisa melunasi semua hutang kartu kredit mereka?

Sekarang negeri kartu kredit ini sedang limbung. Setiap hari Televisi menyiarkan PHK di mana-mana, outlet ditutup, usaha-usaha raksasa ditutup yang menggulirkan gulungan batu es yang setiap waktu melindas orang-orang kecil di bawahnya. Bank semakin selektif bahkan sebagian besar tidak lagi memberikan pinjaman sehingga semakin banyak bisnis kecil yang hidupnya bergantung pada pinjaman bank terpaksa tutup. Banyak keluarga yang perlahan-lahan melihat rumah mereka yang belum lunas cicilannya, dan entah bagaimana bisa dilunasi, di'buang' ke pasar lelang, universitas publik mulai diminati karena uang kuliah yang tidak terlalu tinggi dibandingkan universitas privat, mal-mal mulai sepi, restoran kecil maupun besar ditantang semakin kreatif supaya masih ada yang mau 'menghabiskan' uang mereka di sana. Bahkan universitas-universitas besar dan kaya di Massachusetts seperti Harvard semakin hati-hati 'membelanjakan' dana mereka. Mereka kehilangan banyak dana investasi ketika Wall street gonjang-ganjing pertengahan sampai akhir tahun 2008 dan tetap belum stabil sampai saat saya menulis catatan ini.

Negeri kartu kredit ini sedang gonjang-ganjing ... dan presiden yang mereka pilih, Obama, kelihatannya sudah mulai bertambah ubannya, bahkan ketika hari inagurasinya masih 9 hari lagi. Kasian Obama harus membereskan milyaran $ hutang di negrinya ini yang membelit, belum lagi kalau Obama sendiri masih punya hutang kartu kredit, dan apakah dia akan sempat mengurusi hutang-hutangnya itu.

Negeri ini memang sedang berubah ... entah ke arah yang baik atau ke arah sebaliknya ...

Tapi ada satu yang tidak berubah di negri ini ... pandangan bahwa 'berhutang' adalah 'way of life'. Anda harus punya sejarah hutang, a.l. dengan membelanjakan kartu kredit Anda, walaupun Anda tahu persis di tabungan Anda sudah tidak ada uang lagi untuk melunasi hutang itu. Anda harus punya hutang, karena dengan sejarah hutang itulah Anda diukur layak atau tidak untuk memiliki rumah, mobil, dll. Tentu saja good credit history guarantees the possibility to get loan!

Tapi koq sekarang jadi begini? Ternyata benar 'suara' yang selalu terdengar setiap kali saya membelanjakan kartu saya 'hutang lagi ni ye!' Suara itu 'mengejek' saya ... dan karena itu saya selalu 'terejek' untuk melunasi kartu saya yang cuma semata-wayang. Saya mungkin termasuk di antara banyak orang di negri ini yang 'terselamatkan' karena tidak punya hutang bejibun atas pembayaran kartu kredit. Tapi saya pun termasuk dalam kelompok yang kelimpungan itu karena saya masih harus melunasi cicilan pembayaran bulan lalu dalam minggu ini. Bedanya saya optimis, karena dari hasil kerja saya tahun lalu, saya yakin akan bisa melunasi hutang itu. Lalu apa yang membuat saya menunggu untuk melunasinya? Saya menunggu tanggal yang tepat. Karena walaupun awam, saya belajar cara yang tepat untuk melakukan transaksi beli dan bayar kartu kredit saya supaya credit history saya bagus. Tapi kan saya tidak perlu history seperti itu? Entahlah. Yang penting kan dilunasi.

Lalu, pilihan yang tepat yang mana? Apakah punya kartu kredit dan melunasi cicilan on time dan beyond credit limit atau tidak punya kartu kredit sama sekali. Semuanya tentu tergantung pada si pemilik dana.

Untuk saya, yang paling cocok adalah punya 1 kartu kredit. Alasan saya ada tiga: pertama, supaya saya bisa mendeteksi sifat konsumtif saya [dan belajar menguranginya], kedua, supaya saya bisa mengumpulkan point $25 untuk saya belanjakan buku, dll gratis di amazon.com, dan ketiga, supaya saya tidak perlu membawa cash kemana-mana dan menggunakan kartu ATM online saat tingkat kejahatan terhadap dana tabungan di bank semakin meninggi.

Untuk saya, 1 kartu kredit dengan limit yang tidak besar, yang cocok untuk ukuran saya sebagai international student di Boston, sudah CUKUP! Persoalannya adalah, tidak semua orang memiliki standar yang sama atas apa yang "CUKUP" itu. Dan, kartu kredit menjadi analogi untuk kita semua bahwa tidak mudah mengatakan "CUKUP!" apalagi memberlakukannya! Dan inilah awal krisis di negeri kartu kredit ini ketika kata "CUKUP" hilang dari kamus hidup sehari-hari dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas dalam struktur sosial dan ekonomi serta politik negeri ini. Dan, saya berada di sini sekarang, masih belum "CUKUP" waktu saya untuk meninggalkan negeri ini!

No comments: