Hari ini, Rabu 21 Januari 2009. 24 Jam sudah berlalu sejak pelantikan Obama. Masih sangat terasa energi dan suasana, khususnya di televisi, tentang peristiwa bersejarah kemarin. Tentu saja pertanyaan berikutnya yang ada di benak banyak orang, setidaknya dalam benak saya: "what's next?" Apa yang terjadi sesudah semua peristiwa perayaan kemarin selesai?
Tiga hal menarik yang saya rasa dan alami:
Pertama, warna kulit. Pagi ini saya bangun dengan perasaan yang berbeda. Dan dalam doa pagi, saya mengucap syukur karena rakyat Amerika sudah memiliki Presiden baru. Bagi banyak orang Obama adalah representasi ultimate dari sejarah dan mimpi rakyat kulit hitam akan berakhirnya sebuah era, yaitu era rasisme. Sebagai sebuah representasi Obama tentu tidak menyelesaikan sejarah itu. Tetapi setidaknya ia menjadi penanda (signifier) dari [harapan] akan berakhirnya era lama itu. Kepresidenan Obama pun tidak bisa menolak beban sejarah yang harus dipikulnya. Kepresidenannya bukan sekedar sebuah pemilihan dari proses demokrasi di negeri ini. Kepresidenannya bukan sekedar keterpilihan seorang kulit hitam. Lebih dalam dari itu. Bagi warga kulit hitam, kepresidenan Obama menjadi signifier bahwa dalam sejarah kelam bangsa ini ada yang bisa diselesaikan. Dan bangsa ini patut bangga, karena mereka setidaknya mampu menyelesaikan sebuah masalah: bahwa tidak mungkin seorang yang tidak berkulit putih menjadi presiden. Obama dan keterpilihannya pun menjadi penanda dari kedewasaan bangsa ini untuk menjawab 1 pertanyaan 'sederhana': apakah tidak mungkin orang yang bukan kulit putih menjadi presiden? Tanggal 4 November 2008 dan 20 January 2009 adalah jawaban bangsa Amerika terhadap pertanyaan itu. Dan jawaban mereka, diteriakkan oleh lebih dari 1 juta orang dalam perayaan kemarin: Mungkin! Dan ya, SUDAH TERJADI! Karena itu, tanggal 20 Januari 2009 menjadi yang di [beri]tanda[i] (signified) bahwa yang mungkin itu sudah terjadi!
Kalau begitu apa hubungan jawaban itu dengan diri saya? Saya tidak perlu mengada-ada untuk mengatakan "Ya ada hubungannya". Ini yang tidak terlalu sering disitir oleh media di Amerika. Saya merasa cukup sahih untuk menjadi bagian dari prosesi dan arak-arakan perayaan demokrasi bangsa ini. Bukan karena saya berkulit hitam, kulit saya lebih mirip coklat susu, khas warna kulit orang Sulawesi Tenggara yang melewatkan masa kecilnya di tepi laut lepas. Atau mungkin juga karena warna kulit saya. Mungkin keduanya. Tetapi lebih mungkin lagi, karena Obama per se is colorless yet colorful. Ayahnya kulit hitam, ibunya kulit putih, sehingga ia menjadi perpaduan kedua warna itu. Ayah tirinya orang Jawa, mungkin warna kulitnya tidak terlalu jauh berbeda dengan saya. Adik tirinya, berkulit lebih cerah cenderung putih. Istrinya kulit hitam, kedua anak mereka warna kulitnya perpaduan dari warna kulit kedua orang tuanya. Ipar Obama yang kulit hitam beristrikan seorang kulit putih. Dan semua warna-warni itu terlihat unik dan menarik di layar kaca tivi kecil di kamar saya. Karena komposisi warna yang unik dalam darah dan hidup Obama maka dia pun menjadi both colorless and colorful. Latar belakang inilah yang menjadikan Obama secara natural sebagai pribadi yang membangun relasi, menjadi seperti jembatan yang hidup 'in between' untuk menjembatani perbedaan, tetapi juga yang memberi makna dan karenanya memberi definisi (baru) terhadap perbedaan itu. Tetapi mengapa klaim masyarakat kulit hitam menjadi sangat kuat atas Obama. Di sinilah arti terdalam dari kehadiran Obama sebagai signifier atas sejarah kelam bangsa ini. Satu warna dari komposisi warna Obama menjadi signifier dari warna-warna lainnya. Tentu tidak ada masalah di sana, selama yang signifier itu tidak lalu mendominasi warna-warna yang lain. Secara teologis, saya pikir, ke'hitam'an Obama memampukannya untuk berdiri di atas titik sejarah yang jelas dan karenanya memampukannya untuk mengidentifikasi dirinya pada subjek-subjek sejarah itu, berbicara sebagai (as) bagian dari sejarah itu dan karenanya menjadi relevan. Pada saat yang sama, ke'tidak hitam'an-nya menjadi sumber otentisitas bagi Obama untuk menjelajah pada arus sejarah yang berbeda, berbicara sebagai (as) bagian dari sejarah itu dan karenanya menjadi relevan. Tetapi yang paling mendasar adalah pada dirinya sendiri sebagai pribadi yang otentik, Obama bisa berbicara kepada (to) arus-arus sejarah itu, dan tetap menjadi relevan, bahkan membiarkan dirinya menjadi sasaran dari (from) suara-suara itu.
Kedua, wall street. Saat peristiwa inagurasi kemarin, nilai saham di Wall Street turun drastis. Tentu saja ini bukan penanda yang baik. Tetapi gonjang-ganjing itu justru memperlihatkan situasi nyata yang langsung dihadapi Obama dan yang kelihatannya sudah siap ditanggapinya bersama tim ekonominya bahkan 2 minggu sebelum hari inagurasinya. Pertanyaannya tentu apakah Obama akan berhasil mengatasinya? Dia akan mengatasinya bersama seluruh rakyat yang dipimpinnya. Itulah janjinya dalam pidatonya kemarin. Dan hari ini memperlihatkan sejak hari pertama Obama sudah berhadapan langsung dengan tantangan itu. Mungkin hanya 2 jam dia habiskan untuk tidur, tetapi dia siap, dan dia sudah mengantisipasi tantangan itu, dia menawarkan pilihan-pilihan penyelesaian kepada bangsanya. Dia bukan pesulap, tapi semoga dia menjadi presiden yang bertanggungjawab dan setia pada komitmen kepemimpinan pelayanannya. Semoga! Setidaknya itulah doa saya pagi tadi.
Ketiga, koran lokal gratis. Jam 8.25 pagi tadi saya menumpangi kereta yang lewat di depan apartemen. Di Boston kereta menggunakan jalur khusus tetapi tetap di jalan yang sama seperti mobil dan kendaraan lainnya. Kereta seperti itu disebut "T" (entah untuk train, atau untuk trem atau untuk transportation... kelihatannya ketiganya cocok). Ada urusan di pagi hari yang harus saya selesaikan di downtown. Suhu pagi ini termasuk dingin (20F), tetapi saya tetap semangat keluar pagi hari. Yang pasti karena suasana hati saya berbeda. Tak terkatakan, tetapi bukan sedih. Mungkin lebih tepat, plong. Karena di gedung putih ada keluarga baru. Lalu kenapa saya merasa plong. Saya tidak tahu! Tetapi perasaan itu menyenangkan dan lebih baik saya menikmatinya dari pada memikirkannya.
Setelah urusan saya selesai di downtown, saya menumpangi subway (bukan busway seperti di Jakarta dan Surabaya). Yang ini jenis kereta lain. Fasilitas untuk penumpang lebih besar dan kecepatannya lebih tinggi karena tidak harus mengikuti peraturan lampu lalu lintas seperti kendaraan di atas tanah. Kereta bawah tanah ini biasa dikenali dengan warnanya: Merah, Orange, dan Biru. Tetapi biasanya juga kereta bawah tanah ini naik ke atas melewati jembatan yang khusus disiapkan. Kereta bawah tanah ini jangkauannya lebih luas dan menghubungkan wilayah-wilayah yang tidak dijangkau oleh kereta yang lewat di depan apartemen saya. By the way, kereta yang lewat di depan tempat tinggal saya itu warnanya hijau. Memang, berbeda dengan New York yang sistem transportasinya lebih hebat dan karenanya lebih rumit dengan semua nomor yang harus diingat, di Boston lebih sederhana. Semuanya diatur dengan menggunakan warna. Menarik untuk orang seperti saya yang cenderung visual. Tetapi tidak terlalu menolong untuk orang yang buta warna. Kalau untuk yang totally blind mungkin sudah disiapkan pelayanan khusus; saya belum yakin, mungkin karena belum pernah melihat langsung ketersediaan fasilitas ini.
Anyway... Sebelum naik kereta (merah) itu, saya mengingatkan diri saya untuk mengambil koran gratis yang biasanya tersedia di kotak-kotak koran setiap pagi. Tetapi kelihatannya harapan saya tipis untuk mendapatkan koran itu karena 2 hal: pertama, sudah hampir 10.25 pagi ketika kereta itu sedang menuju ke tempat saya. Jadi tidak mungkin rasanya masih ada koran yang tersedia di kotak-kotak koran di park strees station tempat saya nanti hendak berganti ke kereta hijau. Biasanya orang-orang mengambil koran saat berangkat kerja. kedua, menjadi lebih tipis kemungkinan itu karena pasti topik hari ini adalah tentang inagurasi kemarin. Pasti lebih banyak orang yang menginginkan koran hari ini, apalagi gratis.
Tetapi pikiran saya tidak semuanya benar. Begitu masuk ke kereta ternyata ada orang yang meninggalkan koran bekas bacaannya di atas tempat duduk. Saya pun mengambil koran itu dan memasukkannya dalam tas. Setelah saya pindah ke kereta hijau, saya mengeluarkan koran kecil gratis dan bekas itu dan mengecek isinya. Sampul depan saya kenali karena kemarin saya melewatkan waktu menonton seluruh prosesi yang disiarkan langsung stasiun TV ABC. Gambar-gambar lainnya saya kenali juga dari prosesi kemarin. Tetapi yang saya 'tunggu-tunggu' ada di sana. Teks pidato Obama. Tentu saja bisa saya download ... seperti yang sudah dilakukan beberapa teman di Indonesia. Tetapi rasanya berbeda membaca teks pidato inagurasi seorang presiden di koran kecil, gratis, dan bekas. Pidato yang intinya saya hafal, tidak seperti Obama yang menghafal kata demi kata dari pidatonya. Pidato yang inspiratif. Berbeda rasanya bagi seorang rakyat biasa membaca pidato seorang presiden di atas koran bekas, gratis, dan priceless. Seandainya dia presidenku!
So, the aftermath means ... something is different and it feels nice, eventhough it does not necessarily belong to me.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comment:
saya seneng baca tulisan2mu ttg obama. good.
Post a Comment